Article Details

TRANSFORMASI PROSES HUNIAN DI KAWASAN PESISIR RAWAN BANJIR Kasus Studi: Muara Angke, Jakarta Utara

Oleh   Juarni Anita [35212002]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Iwan Sudradjat, MSA, Ph.D.;Ir. Ismet Belgawan Harun, M.Sc., Ph.D.;Ir. Wiwik Dwi Pratiwi, MES, Ph.D.;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : SAPPK - Arsitektur
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
Subjek : Architecture
Kata Kunci : adaptasi, adjustment, banjir, makna hunian, transformasi
Sumber :
Staf Input/Edit : Sandy Nugraha   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-06-21 09:50:30

Fenomena peninggian hunian banyak dijumpai di permukiman pesisir yang rawan banjir, termasuk perumahan nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Peninggian hunian dilakukan oleh penghuni untuk menghindari bahaya banjir. Sejumlah faktor menjadi penyebab terjadinya banjir di Muara Angke, yaitu penurunan muka tanah, kenaikan muka air laut, curah hujan tinggi, dan pendangkalan muara sungai. Sejak permukiman ini dibangun pada tahun 1977, banjir besar telah terjadi 10 kali dalam rentang waktu sekitar 40 tahun. Banjir menjadi stimulus terjadinya peninggian bentuk hunian tersebut dan menjadi kesempatan untuk terjadinya perubahan fisik yang lain. Sekarang, bentuk hunian sangat beragam, baik ketinggian, luas, maupun desain arsitekturnya, sebagai hasil dari upaya adjustment untuk mengatasi banjir dan memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi keluarga. Perubahan fisik hunian tersebut akan mempengaruhi perubahan aktivitas bermukim. Selanjutnya perubahan fisik dan aktivitas tersebut mempengaruhi perubahan makna hunian, sehingga transformasi proses hunian sudah terjadi di Muara Angke. Oleh karena itu, tujuan penelitian disertasi ini adalah sebagai berikut: a) mengidentifikasi strategi adjustment penghuni terhadap fisik huniannya; b) menganalisis dampak perubahan fisik hunian terhadap aktivitas penghuni; dan c) menganalisis dampak perubahan fisik dan aktivitas terhadap makna hunian. Muara Angke dipilih menjadi kasus studi dan lokasi penelitian adalah Blok H, L, K dan Bermis di Muara Angke. Keempat blok hunian ini dipilih karena blok-blok tersebut merupakan permukiman yang mula-mula dibangun oleh pemerintah untuk perumahan nelayan dan akan dipertahankan menjadi hunian horizontal di Muara Angke. Penelitian ini menggunakan metode gabungan, yaitu menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk mengumpulkan data demografi dan perubahan fisik hunian. Metode kualitatif digunakan untuk mengumpulkan data sejarah banjir, perubahan aktivitas, dan makna hunian. Data kualitatif yang telah dianalisis selanjutnya diubah menjadi data kuantitatif supaya mudah dilakukan analisis dengan statistik. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, pengamatan, dan pengukuran di lapangan serta wawancara semi terstruktur dan terbuka kepada 120 responden yang dipilih secara purposive, disesuaikan dengan tujuan penelitian. Banjir menjadi pemicu yang mendorong penghuni untuk meningkatkan daya tahan huniannya terhadap banjir dengan tindakan penyesuaian (adjustment). Mereka meninggikan lantai dasar, plafon, dan menjadikan hunian bertingkat. Selain faktor banjir, faktor internal keluarga juga mempengaruhi perubahan seperti penghasilan, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga. Banjir menjadi kesempatan bagi penghuni untuk mengubah hunian sesuai kebutuhan keluarga dan kapasitas ekonomi mereka. Hunian diperluas, ditambah fungsi, konfigurasi ruang lebih beragam, dan hunian mulai memiliki fokus pada desain. Pada hakikatnya, semakin tinggi tingkat sosial ekonomi penghuni, hunian semakin permanen dan merespon banjir, serta memiliki aspek desain arsitektural. Perubahan fisik hunian tersebut mempengaruhi aktivitas bermukim. Peninggian hunian menurunkan jumlah aktivitas merespon banjir, penambahan fungsi ekonomi menambah aktivitas ekonomi, perluasan hunian meningkatkan peran anak dalam keluarga, dan perubahan konfigurasi ruang menggeser aktivitas privat dari aktivitas publik sehingga keluarga memperoleh privasi dalam menjalin interaksi keluarga dan sosial. Keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas tidak mampu meningkatkan daya tahan huniannya dan tinggal di dalam hunian yang sangat rentan banjir. Mereka hanya mampu melakukan adaptasi dengan cara memperbesar ambang toleransi secara psikologis terhadap stres dan mengubah perilaku sesuai kondisi huniannya. Perubahan fisik dan aktivitas tersebut mempengaruhi makna hunian. Pada awal bermukim makna masih terbatas, hunian hanya sebagai tempat berlindung dengan keterbatasan aktivitas. Sekarang, makna telah berkembang menjadi lebih beragam, terdapat sembilan (9) makna hunian yang berhirarki dari makna fisik, makna fungsional, dan makna simbolis. Hunian tidak hanya sebagai tempat berlindung, tetapi bagi sebagian penghuni, hunian menjadi sumber penghasilan, tempat keberlanjutan keluarga, dan simbol status sosial. Secara umum, terdapat peningkatan hirarki makna hunian sekarang dibandingkan masa awal bermukim. Kontribusi penelitian disertasi adalah banjir memiliki peran dalam transformasi proses hunian, karena banjir menjadi pemicu (trigger) peninggian hunian untuk merespon banjir, dan sekaligus menjadi kesempatan (impetus) bagi terjadinya perubahan-perubahan fisik lainnya. Adjustment dan adaptasi merupakan mekanisme untuk bertahan dalam transformasi proses hunian. Transformasi proses hunian terdiri dari tiga pola, yaitu: a) transformasi umum (didorong kondisi sosial ekonomi); b) transformasi khusus (didorong faktor eksternal); dan c) transformasi yang didorong oleh bencana (banjir). Kebutuhan untuk meningkatkan daya tahan (resilience) hunian menjadi pendorong terjadinya transformasi proses hunian di lingkungan bencana. Selanjutnya hunian yang memiliki daya tahan menimbulkan perasan terikat (attachment) penghuni yang lebih kuat pada huniannya, sehingga mereka cenderung bertahan tinggal. Untuk keberlanjutan perumahan di permukiman pesisir rawan banjir, dukungan pemerintah diperlukan untuk meningkatkan daya tahan hunian dan permukiman.