digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


COVER Hadohoan Satyalen Simaremare
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Hadohoan Satyalen Simaremare
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Hadohoan Satyalen Simaremare
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Hadohoan Satyalen Simaremare
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Hadohoan Satyalen Simaremare
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Hadohoan Satyalen Simaremare
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan


Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi oksidasi dan reduksi dengan lingkungannya. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia dengan lingkungan. Pada industri perminyakan, pipa baja karbon yang digunakan dalam penyaluran minyak mentah dapat mengalami korosi karena masih bercampur dengan air yang mengandung garam-garam, gas-gas yang korosif (i.e. CO2, H2S) maupun senyawa asam organik yang dapat memicu korosi pada pipa sehingga dapat terjadi kerusakan dan terjadi kerugian. Laju korosi pada bagian dalam pipa baja karbon tersebut dapat diturunkan dengan penambahan inhibitor korosi. Inhibitor korosi dapat berasal dari bahan organik maupun anorganik. Inhibitor organik dapat dibuat antara lain dari senyawa basa Schiff hasil sintesis salah satu senyawa turunan indol yaitu isatin. Isatin (1H-indol-2,3-dion) adalah senyawa organik kelompok indol yang dihasilkan oleh tumbuhan terutama kelompok terung-terungan seperti pohon woad (Isatis tinctoria). Senyawa isatin yang dihasilkan oleh tumbuhan ini dapat menjadi green corrosion inhibitor dalam bentuk basa Schiff setelah direaksikan dengan p-nitroanilin. Pada penelitian ini, basa Schiff (E)-3-(4-nitrofenilimino)indolin-2-on telah berhasil disintesis dari isatin dan p-nitroanilin dengan metode refluks yang dilengkapi dengan alat Dean stark trap dengan penambahan pelarut toluena dan katalis H2SO4. Selanjutnya terhadap basa Schiff hasil sintesis dilakukan karakterisasi dengan metode titik leleh, KLT, FTIR, dan NMR. Titik leleh senyawa basa Schiff hasil sintesis adalah 272 – 274 oC. Uji inhibisi korosi senyawa basa Schiff hasil sintesis terhadap baja karbon dalam lingkungan HCl 1M dilakukan dengan metode EIS (Electrochemical Impedance Spectroscopy) dan ekstrapolasi Tafel pada variasi konsentrasi 10, 30, 50, 70, 90, dan 110 ppm, serta variasi suhu pada 35 oC, 45 oC, dan 55 oC. Nilai %EI tertinggi yang diperoleh berdasarkan uji korosi dengan metode EIS adalah 38,22% pada suhu 35 oC dengan konsentrasi 90 ppm. Hasil uji korosi dengan metode ekstrapolasi Tafe menunjukkan bahwa basa Schiff hasil sintesis merupakan inhibitor anodik. Berdasarkan model isoterm adsorpsi Langmuir, diperoleh nilai ?Gads yang lebih positif daripada ?40 kJ/mol, sehingga proses adsorpsi basa Schiff (E)-3-(4-nitrofenilimino)indolin-2-on permukaan baja karbon di lingkungan HCl 1M berlangsung secara adsorpsi fisik (fisiosorpsi).