Article Details

ANALISIS KESIAPAN OPERASIONAL IMPLEMENTASI REDISPATCH UNTUK MENDUKUNG PENINGKATAN PAYLOAD PADA PENERBANGAN GARUDA INDONESIA

Oleh   Muhammad Fikri Kawakibi H [13612059]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Hisar Manongam Pasaribu, Ir. Ernanto Wibisono
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FTMD - Teknik Dirgantara
Fakultas : Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD)
Subjek : Technology
Kata Kunci : flight plan, payload, redispatch
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan   Ena Sukmana
File : 9 file
Tanggal Input : 2019-01-07 14:03:39

Generic placeholder image
BAB 1 Muhammad Fikri Kawakibi H

Generic placeholder image
BAB 2 Muhammad Fikri Kawakibi H

Generic placeholder image
BAB 3 Muhammad Fikri Kawakibi H

Generic placeholder image
BAB 4 Muhammad Fikri Kawakibi H

Generic placeholder image
BAB 5 Muhammad Fikri Kawakibi H


Tugas akhir ini membahas analisis kesiapan program pelatihan dan manual prosedur maskapai Garuda Indonesia untuk melaksanakan operasi penerbangan dengan rencana terbang redispatch atau redispatch flight plan. Metode operasi ini diusulkan oleh Garuda Indonesia untuk memaksimalkan potensi payload yang dapat dibawa dengan mengurangi beban bahan bakar yang dibutuhkan pada penerbangan-penerbangannya sesuai regulasiregulasi yang menjadi acuan terutama CASR 121 dan OpSpecs B44. Analisis perhitungan dilakukan untuk menentukan POR, initial destination, alternate airport, dan peningkatan payload yang optimal untuk tiap-tiap penerbangan yang akan mengimplementasikan prosedur operasi tersebut. Analisis dilakukan dengan cara studi literatur untuk merangkum konsep dan prosedur komprehensif untuk melakukan redispatch, kemudian membandingkan program pelatihan dan manual prosedur maskapai Garuda Indonesia dalam melakukan redispatch dengan persyaratan pada regulasi-regulasi yang menjadi acuan. Jika program pelatihan dan manual prosedur maskapai Garuda Indonesia memenuhi syarat menurut regulasi, dilakukan perhitungan POR, initial destination, dan alternate airport yang optimal. POR optimal dihitung dengan cara memasukkan jarak waypoint-waypoint pada flight plan yang diprakirakan akan menghasilkan peningkatan payload terbesar ke dalam grafik Excel, kemudian menghitung peningkatan payload yang dapat dihasilkan oleh waypoint-waypoint tersebut. Setelah dipilih satu waypoint yang paling optimal sebagai POR, initial destination yang optimal dipilih berdasarkan bandara-bandara yang berada di rute menuju ke intended destination yang memiliki top of descent paling mendekati POR. Terakhir, alternate airport dipilih dengan menentukan airport yang memiliki jarak dari POR yang lebih dekat daripada, namun mendekati jarak dari POR menuju ke initial destination. Peningkatan payload optimal dihitung dengan cara memasukkan kebutuhan fuel dalam flight plan normal dan flight plan redispatch ke dalam Excel, kemudian membandingkan potensi keuntungan dan penghematan yang dapat dicapai oleh penerbangan redispatch terhadap operasi penerbangan normal antara variasi payload dalam sesama penerbangan redispatch pada rute dan tipe pesawat yang sama. Dalam prosedur redispatch, pesawat terbang dengan membawa dua flight plan, yaitu flight plan ke bandara yang lebih dekat daripada bandara tujuan atau initial destination, dan ke tujuan sebenarnya atau intended destination. Pesawat membawa bahan bakar sesuai dengan kebutuhan menuju mencapai initial destination. Pada suatu titik terbang sebelum initial destination yaitu point of redispatch (POR), awak pesawat akan memastikan jika bahan bakar yang tersisa dan kondisi meteorologi di udara cukup untuk mencapai intended destination. Jika pesawat tidak memungkinkan untuk melanjutkan ke intended destination, pesawat akan mendarat untuk mengisi bahan bakar di initial destination. Apabila penerbangan diputuskan ke initial destination, maka pilot in command (PIC) akan melakukan prosedur divert dengan mengacu kepada SOP 330.330.05. Berdasarkan evaluasi terhadap program pelatihan dan manual prosedur maskapai Garuda Indonesia untuk melakukan redispatch, Garuda Indonesia memenuhi syarat menurut regulasi. Berdasarkan perhitungan hubungan antara peningkatan payload dan lokasi titik redispatch untuk penerbangan Jeddah-Jakarta, POR paling optimal terletak di waypoint PAGAI. Untuk penerbangan Jakarta-Amsterdam, POR paling optimal terletak di waypoint DEGET. Bandara Internasional Hang Nadim ditentukan sebagai initial airport untuk penerbangan redispatch Jeddah-Jakarta, dan untuk penerbangan redispatch Jakarta-Amsterdam, Bandara Internasional Frankfurt ditentukan sebagai initial airport-nya. Bandara Internasional Changi, Singapura ditentukan sebagai alternate airport untuk penerbangan redispatch Jeddah-Jakarta. Untuk penerbangan redispatch Jakarta-Amsterdam, Bandara Internasional Munich ditentukan sebagai alternate airport-nya. Penerbangan redispatch paling optimal saat payload ditingkatkan sampai batas MTOW, atau RTOW jika besarnya lebih kecil daripada MTOW, kecuali untuk rute Jeddah-Jakarta yang menggunakan Boeing 777-300ER. Untuk rute Jeddah-Jakarta yang menggunakan Boeing 777-300ER, peningkatan payload yang paling optimal adalah sampai 90% MTOW.