digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT BFM adalah salah satu perusahaan yang bergerak di industri pembuatan vaksin. PT BFM telah mengalami penurunan pendapatan penjualan pada tahun 2016 sebesar Rp 30,16 miliar atau 1,29% dari pendapatan penjualan tahun sebelumnya karena pemberantasan polio tipe 2 yang diprakarsai oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Karena penjualan ekspor vaksin polio memberikan kontribusi paling besar terhadap pendapatan penjualan bersih perusahaan, PT BFM harus mengantisipasi semakin terkikisnya pasar vaksin polio karena program pemberantasan global. Vaksin campak adalah vaksin yang permintaannya diperkirakan masih tinggi karena banyak negara di dunia mewajibkan masyarakatmya untuk diimunisasi dengan vaksin berbasis campak. Tingginya permintaan vaksin campak dimanfaatkan sebagai generator pendapatan baru bagi perusahaan, menggantikan generator pendapatan lama yang permintaannya telah menurun, yaitu vaksin polio. Namun, peluang untuk memaksimalkan penjualan terhalang oleh terbatasnya kapasitas dari fasilitas produksi curah campak yang ada. PT BFM ingin meningkatkan kapasitas produksinya dengan berinvestasi pada fasilitas produksi curah campak yang baru yang rencananya akan dibangun entah dalam konstruksi berbasis modular, beton, atau baja. Dengan demikian, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisis proyek investasi untuk mengetahui kelayakan keuangan dari setiap opsi konstruksi, untuk memilih konstruksi mana yang paling layak secara keuangan, dan untuk menentukan variabel apa saja yang sangat mempengaruhi hasil investasi. Dalam penelitian ini, Discounted Cash Flow (DCF) digunakan sebagai metode valuasi untuk memperkirakan daya tarik peluang investasi. Metode DCF menggunakan proyeksi Free Cash Flow to The Firm (FCFF) dan mendiskontokannya menggunakan tingkat diskonto yang diperlukan, untuk mencapai estimasi nilai pada saat ini. Beberapa parameter keputusan yang digunakan adalah Payback Period (PBP), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Berdasarkan eksplorasi penelitian, semua opsi konstruksi layak untuk dilaksanakan, namun opsi yang paling layak secara keuangan adalah konstruksi berbasis beton. Konstruksi berbasis beton menghasilkan NPV dan IRR masing-masing sebesar Rp 258,107 juta dan 17,56%. Sementara, waktu pengembalian modal untuk konstruksi berbasis beton adalah 11,8 tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa hasil investasi sangat sensitif terhadap perubahan harga jual dan Weighted Average Cost of Capital (WACC).