PT BFM adalah salah satu perusahaan yang bergerak di industri pembuatan vaksin. PT BFM telah
mengalami penurunan pendapatan penjualan pada tahun 2016 sebesar Rp 30,16 miliar atau 1,29% dari
pendapatan penjualan tahun sebelumnya karena pemberantasan polio tipe 2 yang diprakarsai oleh
Badan Kesehatan Dunia (WHO). Karena penjualan ekspor vaksin polio memberikan kontribusi paling
besar terhadap pendapatan penjualan bersih perusahaan, PT BFM harus mengantisipasi semakin
terkikisnya pasar vaksin polio karena program pemberantasan global. Vaksin campak adalah vaksin
yang permintaannya diperkirakan masih tinggi karena banyak negara di dunia mewajibkan
masyarakatmya untuk diimunisasi dengan vaksin berbasis campak. Tingginya permintaan vaksin
campak dimanfaatkan sebagai generator pendapatan baru bagi perusahaan, menggantikan generator
pendapatan lama yang permintaannya telah menurun, yaitu vaksin polio. Namun, peluang untuk
memaksimalkan penjualan terhalang oleh terbatasnya kapasitas dari fasilitas produksi curah campak
yang ada. PT BFM ingin meningkatkan kapasitas produksinya dengan berinvestasi pada fasilitas
produksi curah campak yang baru yang rencananya akan dibangun entah dalam konstruksi berbasis
modular, beton, atau baja. Dengan demikian, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melakukan
analisis proyek investasi untuk mengetahui kelayakan keuangan dari setiap opsi konstruksi, untuk
memilih konstruksi mana yang paling layak secara keuangan, dan untuk menentukan variabel apa saja
yang sangat mempengaruhi hasil investasi.
Dalam penelitian ini, Discounted Cash Flow (DCF) digunakan sebagai metode valuasi untuk
memperkirakan daya tarik peluang investasi. Metode DCF menggunakan proyeksi Free Cash Flow to
The Firm (FCFF) dan mendiskontokannya menggunakan tingkat diskonto yang diperlukan, untuk
mencapai estimasi nilai pada saat ini. Beberapa parameter keputusan yang digunakan adalah Payback
Period (PBP), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Berdasarkan eksplorasi
penelitian, semua opsi konstruksi layak untuk dilaksanakan, namun opsi yang paling layak secara
keuangan adalah konstruksi berbasis beton. Konstruksi berbasis beton menghasilkan NPV dan IRR
masing-masing sebesar Rp 258,107 juta dan 17,56%. Sementara, waktu pengembalian modal untuk
konstruksi berbasis beton adalah 11,8 tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa hasil investasi
sangat sensitif terhadap perubahan harga jual dan Weighted Average Cost of Capital (WACC).
Perpustakaan Digital ITB