digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Inko Sakti Dewanto [37023008]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

BAB I Inko Sakti Dewanto [37023008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB II Inko Sakti Dewanto [37023008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB III Inko Sakti Dewanto [37023008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV Inko Sakti Dewanto [37023008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V Inko Sakti Dewanto [37023008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Daftar Pustaka Inko Sakti Dewanto [37023008]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Lampiran
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Pesatnya laju modernisasi yang digalakkan pemerintah Orde Baru pada dekade 1980-an menempatkan industri musik pop sebagai instrumen kultural yang krusial. Pada periode tersebut, Indonesia mengalami transisi besar-besaran menuju industrialisasi, memicu tegangan antara program pembangunan pemerintah yang pragmatis dengan realitas budaya adaptif masyarakat yang makin terpapar arus globalisasi. Dalam dinamika ini, sampul album kaset musik pop muncul tidak sekadar sebagai kemasan fisik pelindung kaset pita, melainkan bertransformasi menjadi agen visual yang secara masif mengartikulasikan definisi "menjadi modern". Mengingat tinjauan akademis terdahulu dalam studi budaya visual sering kali terpaku pada pembacaan estetika formal semata dan mengabaikan dinamika sosiologis di baliknya. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar proses negosiasi jaringan relasi aktor di balik perwujudan visual sampul kaset, sekaligus merumuskan konsep visualitas modernitas yang terepresentasikan di dalamnya. Untuk mengurai fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan sosiologi desain, melalui kerangka analitis Actor Network Theory (ANT). Pendekatan ini dipilih secara strategis untuk melampaui kajian desain konvensional yang kerap memosisikan desain semata-mata sebagai produk pasif kreator tunggal. Kajian ini justru memosisikan sampul kaset sebagai "kotak hitam" (black box) yang dikonstruksi secara dinamis melalui benturan agensi para aktor. Pembuktian hipotesis dilakukan dengan menelusuri jejak relasi kuasa serta agensi para aktor terkaitnya, guna membuktikan bahwa setiap elemen estetis—mulai dari foto, tata letak, warna, hingga tipografi—adalah manifestasi dari tindakan sosial yang sarat kepentingan. Hasil analisis mengungkap bahwa visualisasi sampul kaset terbentuk melalui dialektika dua tipologi jaringan. Pertama, ANT Mekanistik, yakni tatanan jaringan yang didominasi oleh hegemoni label rekaman. Pada tatanan ini, produksi visual direduksi menjadi objek massal berorientasi pasar; desainer grafis terpinggirkan sebagai operator teknis, figur musisi diobjektifikasi menjadi komoditas artifisial, dan keputusan visual tunduk mutlak pada determinasi aktor non-manusia (limitasi mesin cetak offset, sempitnya dimensi kaset, serta regulasi sensor Orde Baru). Kedua, ANT Humanistik, sebuah anomali di mana musisi elit berhasil mengendalikan otonomi agensi. Pada jaringan ini, musisi dan desainer i berkolaborasi sebagai mitra intelektual untuk menundukkan batasan material demi mengekspresikan rasionalitas visual. Dialektika kedua jaringan yang cukup berseberangan ini pada akhirnya distabilkan oleh mobilisasi penggemar yang memvalidasi wacana industri melalui ritus konsumsi harian. Konvergensi dari pertarungan agensi tersebut melahirkan perumusan visualitas modernitas yang paradoksal dan tersegmentasi. Melalui kacamata ANT Humanistik, sampul kaset menampilkan citra elitis dan bergaya kosmopolitan sebagai simbol kemerdekaan individu kelas menengah urban. Namun di sisi lain, melalui lensa ANT Mekanistik, artefak ini bertindak sebagai komoditas yang menawarkan ilusi kedekatan bagi kelas pekerja marjinal, sekaligus mengaburkan represi sosial-politik negara di lapis terdalamnya. Konsep modernitas ini dinegosiasikan secara terus-menerus, merepresentasikan identitas masyarakat Indonesia era 1980-an yang sesungguhnya terjebak dalam hibriditas budaya antara tuntutan rasionalitas global dan kepatuhan tradisi. Kebaruan penelitian ini terletak pada postulat teoretis yang secara tegas meredefinisi konsep visualitas—bukan lagi sekadar representasi gambar statis yang tunduk pada aturan estetika formal, melainkan sebuah konstruksi sosio-visual dan arena negosiasi material. Melalui redefinisi ontologis ini, disertasi memberikan sumbangan pemikiran yang signifikan terhadap khazanah keilmuan Desain Komunikasi Visual dan kajian budaya. Penelitian ini membuktikan secara definitif bahwa desain grafis hadir sebagai artefak sosiologis aktif yang membingkai relasi kuasa antar aktor, memediasi dualitas kelas sosial, sekaligus merekam pengalaman eksistensial masyarakat Indonesia dalam merengkuh modernitas.