Perairan Pulau Misool merupakan bagian dari wilayah Indonesia timur yang
memiliki dinamika oseanografi kompleks sehingga rekonstruksi kondisi
paleoseanografi diperlukan untuk memahami perubahan lingkungan laut pada masa
lampau. Penelitian ini bertujuan menentukan estimasi kecepatan arus dasar laut
berdasarkan ukuran sortable silt, dan menganalisis dinamika sedimentasi di
Perairan Pulau Misool selama Holosen Akhir menggunakan analisis ratio
planktonik/bentonik mikrofauna foraminifera dan mengkaji variasi unsur geokimia
sedimen menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) handheld. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sedimen didominasi oleh very coarse silty fine sand
dan very fine sandy fine silt sementara jenis lanaunya didominasi oleh coarse silt
hingga very coarse silt. setelah dihitung estimasi kecepatan arus dasar lautnya,
menunjukkan nilai kecepatan arus dasar laut sebesar 21,45–65,26 cm/s. Zona II
(70–120 cm) menunjukkan energi hidrodinamika dasar laut tertinggi dibandingkan
zona lainnya, dengan estimasi kecepatan 47,2 cm/s, sementara zona I dengan rata
rata 36,83 cm/s dan Zona III dengan rata-rata 36,14 cm/s. Rasio P/B sebesar 94
99% mengindikasikan dominasi foraminifera planktonik yang memang khas pada
lingkungan laut dalam dan terbuka. Analisis XRF menunjukkan adanya variasi
kontribusi material terrigenous menyebabkan adanya perubahan jenis mineralogi,
yang tercermin dari perubahan rasio unsur pada beberapa interval kedalaman.
Berdasarkan korelasi stratigrafi dengan sedimen core GM3-2018-WPG.04 di
Perairan Waipoga, umur, inti sedimen merekam kondisi oseanografi sejak sekitar
5,7 ka BP hingga masa kini. Integrasi ketiga proksi memberikan akses untuk bisa
merekonstruksi kondisi paleoseanografi Perairan Pulau Misool terutama terkait
variabilitas arus dasar laut dan dinamika sedimentasi selama Holosen Akhir yang
mencerminkan perubahan sirkulasi oseanografi regional.
Perpustakaan Digital ITB