digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Aurora Belva Catalina
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Perairan Pulau Misool merupakan bagian dari wilayah Indonesia timur yang memiliki dinamika oseanografi kompleks sehingga rekonstruksi kondisi paleoseanografi diperlukan untuk memahami perubahan lingkungan laut pada masa lampau. Penelitian ini bertujuan menentukan estimasi kecepatan arus dasar laut berdasarkan ukuran sortable silt, dan menganalisis dinamika sedimentasi di Perairan Pulau Misool selama Holosen Akhir menggunakan analisis ratio planktonik/bentonik mikrofauna foraminifera dan mengkaji variasi unsur geokimia sedimen menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) handheld. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedimen didominasi oleh very coarse silty fine sand dan very fine sandy fine silt sementara jenis lanaunya didominasi oleh coarse silt hingga very coarse silt. setelah dihitung estimasi kecepatan arus dasar lautnya, menunjukkan nilai kecepatan arus dasar laut sebesar 21,45–65,26 cm/s. Zona II (70–120 cm) menunjukkan energi hidrodinamika dasar laut tertinggi dibandingkan zona lainnya, dengan estimasi kecepatan 47,2 cm/s, sementara zona I dengan rata rata 36,83 cm/s dan Zona III dengan rata-rata 36,14 cm/s. Rasio P/B sebesar 94 99% mengindikasikan dominasi foraminifera planktonik yang memang khas pada lingkungan laut dalam dan terbuka. Analisis XRF menunjukkan adanya variasi kontribusi material terrigenous menyebabkan adanya perubahan jenis mineralogi, yang tercermin dari perubahan rasio unsur pada beberapa interval kedalaman. Berdasarkan korelasi stratigrafi dengan sedimen core GM3-2018-WPG.04 di Perairan Waipoga, umur, inti sedimen merekam kondisi oseanografi sejak sekitar 5,7 ka BP hingga masa kini. Integrasi ketiga proksi memberikan akses untuk bisa merekonstruksi kondisi paleoseanografi Perairan Pulau Misool terutama terkait variabilitas arus dasar laut dan dinamika sedimentasi selama Holosen Akhir yang mencerminkan perubahan sirkulasi oseanografi regional.