Metode magnetotelurik (MT) merupakan metode geofisika pasif yang
memanfaatkan variasi alami medan elektromagnetik untuk mengestimasi distribusi
resistivitas listrik bawah permukaan Bumi. Dalam pemodelan MT dua dimensi,
persamaan Maxwell umumnya tidak dapat diselesaikan secara analitik sehingga
diperlukan pendekatan numerik untuk memperoleh solusi medan elektromagnetik
secara aproksimasi. Di antara berbagai metode numerik yang tersedia, metode
elemen hingga (FEM) dipilih dalam penelitian ini karena keunggulannya dalam
merepresentasikan geometri kompleks serta mesh tak beraturan. Penelitian ini
bertujuan memvalidasi hasil forward modeling MT 2D menggunakan node-based
FEM dengan dua strategi penyelesaian sistem persamaan linear, yaitu direct solver
(LU factorization) dan iterative solver (Quasi-Minimal Residual/QMR dengan ILU
preconditioning), terhadap solusi analitik model bumi homogen dan berlapis satu
dimensi, serta model benchmark COMMEMI 2D-1 dan COMMEMI 2D-3. Hasil
forward modeling kemudian dijadikan data sintetik untuk proses inversi
menggunakan algoritma Non-Linear Constrained Gauss–Newton, guna menguji
kemampuan algoritma merekonstruksi distribusi resistivitas bawah permukaan.
Hasil penelitian menunjukkan algoritma forward modeling berbasis FEM mampu
mereproduksi respons MT dengan baik pada seluruh model uji, ditunjukkan oleh
kesesuaian kurva resistivitas semu dan fase terhadap data referensi, dengan nilai
MAPE rata-rata umumnya di bawah 7%. Selisih akurasi antara LU dan QMR-ILU
solver relatif kecil, sedangkan dari segi efisiensi komputasi, solver iteratif QMR
dengan ILU preconditioning secara konsisten memberikan waktu komputasi lebih
singkat. Pada tahap inversi, algoritma Gauss–Newton berhasil merekonstruksi
struktur resistivitas dari data sintetik pada seluruh model uji, dengan konvergensi
tercapai dalam kisaran 4–38 iterasi dan nilai MAPE resistivitas semu serta fasa hasil
inversi umumnya di bawah 10%, mengindikasikan rekonstruksi yang konsisten
dengan model acuan.
Perpustakaan Digital ITB