digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Implementasi Enterprise Resource Planning (ERP) menyebabkan perubahan radikal dalam organisasi. Perubahan ini berdampak pada proses bisnis, arsitektur data, peran, serta perilaku karyawan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa sebagian besar proyek ERP tidak gagal karena kendala teknologi, melainkan disebabkan oleh rendahnya kesiapan organisasi dan lemahnya pengelolaan perubahan. Penelitian ini mengkaji implementasi sistem ERP-SAP di PT Bukit Asam (PTBA) yang dilaksanakan berdasarkan mandat dari perusahaan induk, MIND ID, sebagai upaya untuk menggantikan sistem ERP lama, yaitu Ellipse. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapan individu dan kesiapan organisasi, mengidentifikasi pemangku kepentingan yang terlibat, serta merumuskan pendekatan manajemen perubahan yang disesuaikan untuk mendukung implementasi ERP di PTBA. Metode penelitian yang digunakan merupakan kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui survei menggunakan model ADKAR untuk menilai kesiapan individu serta instrumen kesiapan organisasi. Selain itu, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan business process data owners dan key users. Proses triangulasi digunakan untuk mengintegrasikan hasil survei, temuan wawancara, dan perspektif teori yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan individu di PTBA tergolong relatif tinggi, terutama pada dimensi Kesadaran, Kemauan, Pengetahuan, dan Kemampuan. Namun demikian, dimensi Penguatan memperoleh skor terendah, yang mengindikasikan adanya risiko dalam mempertahankan perilaku baru setelah tahap go-live ERP. Kesiapan organisasi berada pada tingkat sedang dan tidak merata antar dimensi. Meskipun visi dan komunikasi pimpinan terkait implementasi ERP relatif jelas, masih terdapat kelemahan pada aspek strategi perubahan dan komitmen organisasi, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara arah strategis dan kesiapan operasional. Temuan wawancara juga mengungkapkan tantangan yang masih berlanjut terkait efisiensi alur kerja, koordinasi lintas fungsi, integrasi sistem, dan kompetensi pengguna. Temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa meskipun PTBA memiliki kondisi awal yang cukup mendukung untuk adopsi ERP, keberlanjutan pemanfaatan ERP–SAP masih berisiko tanpa penguatan mekanisme reinforcement, kejelasan komitmen organisasi, serta peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan. Berdasarkan hasil penelitian, studi ini mengusulkan strategi manajemen perubahan yang terarah dan disusun berdasarkan lima pilar utama, yaitu: mekanisme komunikasi dan penyelarasan, mempertahankan keinginan, membangun kemampuan, pemberdayaan dan tata kelola, serta mengelola peran pemangku kepentingan. Strategi yang diusulkan diharapkan dapat mendukung implementasi ERP–SAP yang berkelanjutan di PTBA.