digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penurunan daya beli masyarakat Aceh sangat terasa saat ini, apalagi Aceh dikenal sebagai provinsi termiskin di Sumatera. Paparan pandemi COVID-19 juga memperburuk kawasan ini dengan meningkatnya pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Oleh karena itu, industri kreatif sangat didukung oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut, tidak terkecuali industri jasa makanan. Sebelum diberhentikan sementara pada awal tahun 2021, Burgerify sudah beroperasi setidaknya selama setengah tahun di Banda Aceh. Meskipun bisnis ini dapat menyediakan burger berkualitas dengan harga terjangkau untuk menarik pelanggan sasaran, justru gagal mempertahankan dan memperoleh pelanggan ketika Burgerify mengetahui segmen yang di target ternyata berasal dari pelanggan dengan daya beli rendah. Oleh sebab itu, Burgerify memerlukan usulan strategi baru untuk mendapatkan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam melayani segmen pelanggan yang ditargetkan dan bersaing dengan pesaingnya dari ancaman tertinggi hingga ancaman terendah seperti: pesaing sekunder (bisnis kebab), pesaing langsung (bisnis burger premium), dan pesaing tidak langsung (bisnis burger tingkat kedua). Strategi baru kemudian dirumuskan berdasarkan analisis eksternal yang mencakup Porter’s Five Forces, dan analisis internal yang mencakup Analisis Proses Bisnis dan Analisis VRIO. Kemudian, semua temuan yang diperlukan dari analisis eksternal dan internal ini dikumpulkan untuk membangun akar penyebab masalah dengan menggunakan Diagram Fishbone. Akar penyebab masalah dari penelitian ini adalah “mendapatkan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam daya beli konsumen yang rendah.” Menanggapi pernyataan masalah tersebut, penulis mengusulkan strategi seperti Strategi Porter’s Generic, Bisnis Model Canvas, dan alat pembuktian strategi yang disebut dengan Strategy Diamond Model. Akibatnya, strategi yang disebut sebagai cost-focus diusulkan, dan mengarah ke rencana pembangunan unit bisnis baru yang berfokus pada B2B (bisnis-ke-bisnis). Bisnis baru tersebut kemudian akan bertindak sebagai pemasok untuk unit B2C (bisnis-kekonsumen), yang diharapkan akan berubah menjadi bisnis waralaba kemudian.