Bhumi Bambu merupakan destinasi wisata alam di kawasan Baturraden yang telah berkembang dan mengalami dinamika pengelolaan, tetapi masih menghadapi kesenjangan antara potensi konservasi bambu, pengalaman pengunjung, positioning, dan kesiapan model bisnis. Penelitian ini ditempatkan dalam payung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8, 12, 13, dan 15. Tujuan penelitian adalah: (1) menganalisis potensi serta kesenjangan sisi permintaan dan penawaran menggunakan model 10A; (2) menganalisis positioning destinasi melalui kerangka Segmentation–Targeting–Positioning (STP) dan Marketing Mix 7P; (3) mendiagnosis fase perkembangan destinasi menggunakan Tourism Area Life Cycle (TALC); (4) menyusun Business Model Canvas (BMC) eksisting sebagai sintesis temuan 10A, 7P, dan konteks fase TALC; serta (5) merumuskan strategi pengelolaan ekowisata yang holistik melalui klasifikasi SWOT dan Blue Ocean Strategy (BOS) dengan kerangka Eliminate–Reduce–Raise–Create (ERRC). Fokus penelitian adalah strategi pengelolaan bagi destinasi yang telah berjalan, bukan evaluasi menyeluruh atas proses manajemen strategis organisasi. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif kualitatif yang diperkuat data kuantitatif deskriptif dari 72 pengunjung. Data diperoleh melalui kuesioner, wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara bertahap dan ditriangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh komponen 10A dinilai baik hingga sangat baik oleh pengunjung, tetapi sisi penawaran masih menunjukkan kelemahan pada diferensiasi bambu, standardisasi layanan, interpretasi kawasan, dan tata kelola. Positioning aktual Bhumi Bambu adalah destinasi wisata alam terjangkau i yang tenang dan tidak massal, sedangkan identitas ekowisata bambu masih perlu diperkuat. Analisis TALC menempatkan Bhumi Bambu pada fase transisi dari involvement menuju early development. Sintesis dalam BMC memperlihatkan bahwa sumber daya alam dan pengalaman kawasan telah menjadi dasar penciptaan nilai, tetapi segmen pelanggan, hubungan pelanggan, kemitraan, serta diversifikasi pendapatan belum optimal. Klasifikasi SWOT menjadi jembatan diagnosis, sedangkan BOS melalui ERRC menghasilkan arah strategi berupa penguatan konservasi dan storytelling bambu, eco-learning, bamboo forest bathing, kegiatan komunitas, profesionalisasi pengelolaan, diversifikasi pendapatan, dan pengendalian aktivitas yang berisiko menurunkan kualitas lingkungan. Strategi tersebut dirangkum dalam BMC–BOS untuk mendukung daya saing, konservasi, manfaat ekonomi lokal, dan pencapaian SDGs.
Perpustakaan Digital ITB