digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri manufaktur makanan dan minuman merupakan salah satu kontributor utama bagi perekonomian Indonesia, namun banyak perusahaan masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan kinerja. PT WLL, sebuah perusahaan manufaktur makanan berskala menengah yang berlokasi di Bandung, mengalami penurunan volume penjualan kecap di wilayah Jawa Barat dari 3 juta liter pada tahun 2019 menjadi 2,3 juta liter pada tahun 2024, meskipun beroperasi di pasar yang besar dan matang. Sistem evaluasi kinerja perusahaan masih didominasi oleh indikator keuangan, sehingga kurang mampu menangkap faktor pendorong kinerja operasional dan organisasi secara menyeluruh, serta menunjukkan perlunya sistem manajemen kinerja yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Knowledge-Based Performance Management System (KBPMS) bagi PT WLL. Kerangka konseptual terintegrasi digunakan dengan mengombinasikan analisis eksternal menggunakan Five Forces Porter, analisis internal melalui kerangka VRIO, serta diagnosis akar masalah menggunakan Current Reality Tree (CRT). Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui focus group discussion (FGD) terstruktur yang melibatkan direktur dan lima manajer fungsional, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan keuangan perusahaan, catatan produksi dan operasional, serta dokumen internal perusahaan. Key Performance Indicators (KPI) dikembangkan dalam tiga perspektif, yaitu Business Result, Internal Process, dan Resource Capability, dan Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas KPI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan utama kinerja PT WLL terletak pada belum adanya KPI non-keuangan yang terstruktur dan terintegrasi yang menghubungkan strategi dengan pelaksanaan operasional. KBPMS yang diusulkan menyediakan dasar yang sistematis untuk pemantauan kinerja, penyelarasan strategi, dan perbaikan berkelanjutan bagi perusahaan manufaktur berskala menengah.