Abstrak - Sarah Fadlilah Sigit
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan
operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda
antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini
belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris
memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis,
menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta
mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan
campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif
menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi
kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif
untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan
masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan
dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion
(FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen
konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan
pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan
yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration.
Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi
ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin,
faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut,
penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai
kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk
kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat
adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi.
Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model
Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan
kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat,
pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan
protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman
terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat
keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk
memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.
Perpustakaan Digital ITB