ABSTRAK Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Pembangunan sumber daya manusia di Indonesia masih terhambat oleh stunting
yang terkait erat secara struktural dengan kemiskinan dan kegagalan tata kelola
lingkungan perkotaan. Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon, menjadi lokus paradoks
perencanaan wilayah karena berstatus pusat pelayanan lingkungan dengan
aksesibilitas kesehatan ideal dan kemiskinan moneter rendah, tetapi memikul
beban absolut kasus stunting tertinggi di kota, yaitu 308 balita. Penelitian ini
bertujuan merumuskan rekomendasi kebijakan pengendalian stunting yang
kontekstual dan terukur berdasarkan analisis faktor determinan dan efektivitas
upaya pengendalian yang berjalan. Penelitian menerapkan desain Metode
Campuran Konvergen Paralel berbobot kuantitatif dominan (QUAN-qual)
terhadap 129 responden melalui pendekatan kasus-kontrol. Data kuantitatif
dianalisis melalui uji Chi-Square, regresi logistik biner, dan efek marginal,
sedangkan data kualitatif diperoleh dari wawancara mendalam dan observasi.
Hasil uji bivariat membuktikan hipotesis penelitian, yaitu kemiskinan
berhubungan signifikan dengan stunting (p = 0,012; OR = 3,71). Model regresi
logistik multivariat final mengonfirmasi status kemiskinan sebagai determinan
dominan (OR = 4,09; probabilitas naik 30 poin persentase) dan ketidakpatuhan
konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai determinan nonekonomi terkuat
(OR = 2,97; 24,28 poin persentase). Upaya pengendalian stunting eksisting
terbukti efektif secara kuantitas aksesibilitas, tetapi tidak efektif secara kualitas
utilitas dan konvergensi struktural akibat kerusakan massal alat antropometri dan
segregasi spasial mikro. Temuan ini menyelesaikan kontradiksi dua penelitian
terdahulu pada lokus yang sama, sekaligus memperluas kajian determinan skala
nasional ke konteks mikro kelurahan yang terintegrasi dengan evaluasi kebijakan.
Kebaruan penelitian terletak pada bukti empiris paradoks kesehatan perkotaan
tingkat kelurahan, determinan perilaku nonekonomi yang berdiri mandiri, serta
konsep lingkungan pemicu stunting berbasis segregasi spasial mikro. Penelitian
ini berkontribusi bagi khazanah ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota melalui
model integrasi spasial-epidemiologis, sekaligus menjadi basis revisi kebijakan
pengendalian stunting Kota Cirebon yang lebih presisi dan berkeadilan.
Perpustakaan Digital ITB