digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Moh. Sabri Arrozik
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Pembangunan sumber daya manusia di Indonesia masih terhambat oleh stunting yang terkait erat secara struktural dengan kemiskinan dan kegagalan tata kelola lingkungan perkotaan. Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon, menjadi lokus paradoks perencanaan wilayah karena berstatus pusat pelayanan lingkungan dengan aksesibilitas kesehatan ideal dan kemiskinan moneter rendah, tetapi memikul beban absolut kasus stunting tertinggi di kota, yaitu 308 balita. Penelitian ini bertujuan merumuskan rekomendasi kebijakan pengendalian stunting yang kontekstual dan terukur berdasarkan analisis faktor determinan dan efektivitas upaya pengendalian yang berjalan. Penelitian menerapkan desain Metode Campuran Konvergen Paralel berbobot kuantitatif dominan (QUAN-qual) terhadap 129 responden melalui pendekatan kasus-kontrol. Data kuantitatif dianalisis melalui uji Chi-Square, regresi logistik biner, dan efek marginal, sedangkan data kualitatif diperoleh dari wawancara mendalam dan observasi. Hasil uji bivariat membuktikan hipotesis penelitian, yaitu kemiskinan berhubungan signifikan dengan stunting (p = 0,012; OR = 3,71). Model regresi logistik multivariat final mengonfirmasi status kemiskinan sebagai determinan dominan (OR = 4,09; probabilitas naik 30 poin persentase) dan ketidakpatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai determinan nonekonomi terkuat (OR = 2,97; 24,28 poin persentase). Upaya pengendalian stunting eksisting terbukti efektif secara kuantitas aksesibilitas, tetapi tidak efektif secara kualitas utilitas dan konvergensi struktural akibat kerusakan massal alat antropometri dan segregasi spasial mikro. Temuan ini menyelesaikan kontradiksi dua penelitian terdahulu pada lokus yang sama, sekaligus memperluas kajian determinan skala nasional ke konteks mikro kelurahan yang terintegrasi dengan evaluasi kebijakan. Kebaruan penelitian terletak pada bukti empiris paradoks kesehatan perkotaan tingkat kelurahan, determinan perilaku nonekonomi yang berdiri mandiri, serta konsep lingkungan pemicu stunting berbasis segregasi spasial mikro. Penelitian ini berkontribusi bagi khazanah ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota melalui model integrasi spasial-epidemiologis, sekaligus menjadi basis revisi kebijakan pengendalian stunting Kota Cirebon yang lebih presisi dan berkeadilan.