digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Fiona Tjandra Bunnardi
PUBLIC Open In Flipbook Ridha Pratama Rusli

Indonesia masih bergantung pada batu bara sebagai sumber energi primer dengan kontribusi mencapai 56% pada tahun 2023. Batu bara hibrida, yaitu campuran batu bara peringkat rendah dan biomassa, berpotensi menjadi alternatif energi yang lebih bersih, namun masih menghadapi tantangan terkait sifat fisik, karakteristik pembakaran, dan perilaku abu. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan membandingkan ketiga aspek tersebut melalui serangkaian pengujian meliputi Hardgrove Grindability Index (ASTM D409), densitas curah (USP 616), uji pembakaran menggunakan tungku fabrikasi untuk mengukur ignitabilitas dan waktu retensi, serta preparasi abu berdasarkan GB/T 212-2008 yang selanjutnya dikarakterisasi menggunakan X-Ray Fluoresence dan Ash Fusion Temperature. Pengujian dilakukan pada sampel batu bara konvensional Banko Selatan (BS), Banko Tengah (BT), dan Peranap (PR), biomassa Kaliandra (KL), serta batu bara hibrida hasil pencampuran keduanya dengan penamaan BSKL, BTKL, dan PRKL. Hasil pengujian menunjukkan bahwa densitas curah batu bara hibrida BSKL, BTKL, dan PRKL sebesar 0,483; 0,407; dan 0,381 g/ml, lebih rendah dibandingkan BS, BT, dan PR yang masing-masing sebesar 0,681; 0,649; dan 0,653 g/ml. Di sisi lain, nilai HGI batu bara hibrida mencapai 124,30; 154,25; dan 158,81, lebih tinggi daripada batu bara konvensional yang berkisar antara 63,29–83,66. Kondisi ini mengindikasikan porositas yang lebih tinggi pada batu bara hibrida. Pada uji pembakaran, seluruh batu bara hibrida terbakar pada waktu kontak 10 detik, lebih cepat dibandingkan BS dan BT yang memerlukan 40 detik, sedangkan PR tidak terbakar hingga 70 detik. Waktu retensi tanpa dan dengan spiritus untuk batu bara hibrida berada pada kisaran 31–39 menit, lebih rendah dibandingkan batu bara konvensional yang mencapai 48–65 menit. Hasil ini menunjukkan kemudahan penyalaan batu bara hibrida yang lebih baik, sementara perlakuan serbuk meningkatkan kemudahan penyalaan namun tidak memberikan pengaruh yang merata pada seluruh sampel. Berdasarkan hasil pemeringkatan E-TOPSIS, urutan potensi slagging dan fouling dari yang terendah hingga tertinggi adalah PR, BTKL, BS, PRKL, BT, BSKL, dan KL. Sejalan dengan hasil tersebut, abu PR memiliki temperatur leleh tertinggi dibandingkan sampel lainnya.