Platform marketplace tertutup berkepemilikan asing kini menguasai lebih
dari 95% transaksi e-commerce marketplace Indonesia. Struktur ini membawa
konsekuensi fiskal yang berat: estimasi aliran keluar kekayaan bersih (net wealth
outflow) tahunan sebesar Rp197–303 triliun sepanjang trajektori 2022–2025,
hubungan platform asimetris yang mengunci usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM), dan pengikisan bertahap peran bank nasional dalam aliran transaksi,
hubungan merchant, dan pembiayaan UMKM. Efek gabungannya mengancam baik
relevansi jangka panjang sektor bank nasional maupun tujuan kedaulatan digital
(digital sovereignty) Indonesia secara lebih luas. Tiga pertanyaan muncul dari
gambaran ini. Bagaimana struktur platform tertutup melemahkan posisi strategis
bank nasional (lapisan diagnostik)? Model tata kelola mana yang paling sesuai
untuk membangun marketplace digital nasional yang berdaulat (lapisan desain
tata kelola)? Dan peran strategis apa yang harus dimainkan bank nasional dalam
mengatasi disintermediasi platform, serta bagaimana peran tersebut harus
dioperasionalisasikan (lapisan operasionalisasi strategis)?
Penelitian ini merupakan studi kasus tunggal kualitatif-interpretif atas satu
bank umum milik negara berskala besar — dianonimkan sebagai "Bank" — salah
satu dari empat pilar Himpunan Bank-Bank Milik Negara (HIMBARA). Data
primer berasal dari tiga wawancara semi-terstruktur dengan Senior Vice President
dari Digital Banking, Business Transformation, dan Transaction Banking, dipilih
melalui purposive elite sampling. Wawancara tersebut dilengkapi Focus Group
Discussion (FGD) multi pemangku kepentingan yang diselenggarakan Danantara
(Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, lembaga pengelola investasi
negara Indonesia) pada 15 Januari 2026, yang menghadirkan tiga kementerian
sektoral, operator marketplace bisnis ke bisnis (B2B) milik negara, dan perwakilan
industri domestik. Analisis mengikuti analisis konten tematik enam-fase Braun and
Clarke, dengan triangulasi lintas-sumber atas tiga saluran data primer dan korpus
sekunder regulasi Indonesia, publikasi regulator, serta literatur kebijakan
komparatif. Jaminan mutu dipetakan terhadap empat uji studi kasus Yin.
Tiga temuan dihasilkan. Pertama, tekanan terhadap Bank tampak secara
empiris sebagai pola disintermediasi tiga lapisan: lapisan transaksional telah
tererosi secara substansial, lapisan komersial dalam tekanan aktif melalui eksklusi
data UMKM, dan lapisan kepercayaan masih awal namun paling signifikan secara
strategis. Dua temuan pertama dilaporkan dengan kepercayaan tinggi di bawah
triangulasi tiga-sumber; temuan lapisan kepercayaan dilaporkan sebagai temuan
awal (preliminary). Kedua, Indonesia Open Network (ION) — arsitektur
perdagangan berbasis protokol terbuka yang diadaptasi dari Open Network for
Digital Commerce (ONDC) India dan dikelola oleh badan koordinator netral —
merupakan model tata kelola yang paling sesuai. Baik jalur konsolidasi platform
yang dikendalikan negara (metode Tiongkok) maupun jalur kompetitor tertutup
independen (metode Amerika Serikat) secara empiris ditolak. Ketiga, peran
strategis Bank di dalam ION adalah jangkar infrastruktur tiga lapisan: penyediaan
settlement dan escrow, pembiayaan tertanam (embedded financing) berbasis data
transaksi lintas-platform, serta layanan kepercayaan dan identitas (trust-and
identity services) di lapisan infrastruktur. Partisipasi aktif teridentifikasi sebagai
postur strategis yang dibenarkan secara substantif, menghasilkan rangkaian nilai
komersial (value-loop) yang membentuk kasus ekonomi institusional Bank.
Bagi Bank, tesis ini merekomendasikan partisipasi bertahap — settlement
dan escrow terlebih dahulu, embedded financing diskalakan seiring akumulasi data
merchant, layanan kepercayaan dan identitas dibangun sepanjang rangkaian. Bagi
aktor kebijakan Indonesia, tesis merekomendasikan pembentukan badan
koordinator netral-jaringan, penetapan penanggungjawab koordinasi lintas
kementerian, dan mobilisasi Danantara sebagai saluran kapital di bawah
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025. Kontribusi penelitian menyatukan
literatur ekonomi platform, disintermediasi perbankan, dan Digital Public
Infrastructure ke dalam satu kerangka analitis untuk ekonomi e-commerce
berkembang, didukung argumen makroekonomi terkuantifikasi mengenai potensi
recapture (pemulihan) nilai bagi marketplace berdaulat.
Perpustakaan Digital ITB