ABSTRAK Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Muhammad Ayyub Anshori
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Tren pertumbuhan pelari terus meningkat di Indonesia dan populer di area
perkotaan, salah satunya di Kota Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa koridor
jalan bukan hanya sebagai jalur mobilitas, tetapi juga sebagai elemen ruang publik
yang berperan sebagai wadah aktivitas fisik dan rekreasi. Namun, tren pertumbuhan
ini tidak diimbangi dengan kualitas koridor yang memadai untuk berlari. Kebutuhan
pelari berbeda dengan pejalan kaki sehingga tingkat kenyamanan berlari atau
runnability menjadi lebih rinci daripada walkability. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi kualitas koridor jalan di Kota Bandung berdasarkan indikator
runnability yang divalidasi dengan persepsi pelari Kota Bandung. Penelitian ini
menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan jenis eksploratif pada
lokasi penelitian Kota Bandung, yang dilakukan dengan pendekatan spasial dengan
skala segmen jalan 50 m. Penelitian ini diawali dengan menentukan indikator
runnability melalui tinjauan literatur. Kandidat indikator tersebut dinilai
signifikansinya melalui kuesioner persepsi yang diberikan kepada 111 pelari Kota
Bandung sehingga didapatkan 10 indikator paling signifikan menurut persepsi
pelari di Kota Bandung. Selanjutnya untuk menentukan tingkat kenyamanan tiap
segmen jalan akan diidentifikasi berdasarkan indikator runnability persepsi pelari
secara spasial. Penelitian ini menggunakan data sekunder untuk menganalisis setiap
indikator, termasuk penggunaan data street view imagery (SVI) untuk melihat
perspektif objektif dan subjektif. Juga dilakukan evaluasi perbandingan terhadap
intensitas penggunaan koridor dari strava run heatmap. Rekomendasi intervensi
didapatkan dari matriks perbandingan runnability dengan run heatmap, yang
terbagi menjadi lima intervensi, yakni prioritas peningkatan, peningkatan kualitas,
dipertahankan, ditingkatkan bertahap, dan tidak diintervensi. Penelitian ini
menemukan bahwa terdapat 56% segmen jalan yang perlu dilakukan intervensi
untuk meningkatkan kualitas koridor lari di Kota Bandung. Diharapkan penelitian
ini dapat memberi gambaran runnability di Kota Bandung serta menjadi landasan
peningkatan kualitas koridor jalan untuk mewujudkan kota yang lebih ramah pelari
Perpustakaan Digital ITB