digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Asri Samsu
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Asri Samsu
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Asri Samsu
EMBARGO  2029-08-14 

BAB 3 Asri Samsu
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Asri Samsu
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Asri Samsu
EMBARGO  2029-08-14 

BAB 6 Asri Samsu
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN Asri Samsu
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Fragmentasi pengelolaan air perkotaan telah diidentifikasi sebagai penyebab utama krisis air perkotaan. Hal ini terutama terjadi di negara- negara berkembang seperti Indonesia yang menghadapi tekanan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan urbanisasi yang pesat. Pendekatan Pengelolaan Air Perkotaan Terpadu (Integrated Urban Water Management/IUWM) semakin diakui sebagai kerangka strategis untuk mengatasi fragmentasi tersebut melalui integrasi seluruh subsektor air perkotaan ke dalam satu sistem pengelolaan yang koheren dan berkelanjutan. Namun demikian, studi-studi yang ada mengenai pendekatan IUWM sangat bervariasi tergantung pada masing-masing konteks perkotaan yang mencerminkan perbedaan latar belakang sosial-ekonomi dan lingkungan mereka. Meskipun jumlah literatur terkait semakin meningkat, pemahaman mengenai IUWM dan pengaturan kelembagaannya masih terbatas dan terfragmentasi, baik secara konseptual maupun empiris, khususnya dalam konteks Indonesia. Untuk menjawab kesenjangan ini, disertasi ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan tentang Integrated Urban Water Management dengan memahami hakikatnya dan menelaah kerangka kelembagaan yang membentuk pendekatan terintegrasi tersebut di Indonesia. Disertasi ini menggunakan pendekatan multi-metode dan disusun dalam empat studi yang saling terkait. Bab 2 mengembangkan landasan konseptual IUWM melalui Narrative Literature Review terhadap literatur internasional yang bersumber dari basis data Scopus dan ScienceDirect. Studi ini menelaah bagaimana IUWM dikonseptualisasikan terkait dengan keberlanjutan air dan mengidentifikasi kunci pengaturan kelembagaan yang dibahas dalam penelitian sebelumnya. Analisis tematik menunjukkan bahwa efektivitas IUWM sangat bergantung pada koherensi internal dan koherensi eksternal dalam pengaturan kelembagaan di tingkat kebijakan dan regulasi. Sama pentingnya adalah keselarasan pengaturan lintas skala pemerintahan, dari tingkat regional hingga lokal, yang memungkinkan pengelolaan air perkotaan secara terkoordinasi danvi terintegrasi. Pada tingkat koordinasi dan implementasi, integrasi pendekatan topdown dan bottom-up - yang mendorong partisipasi pemangku kepentingan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan - disertai dengan penyelarasan mekanisme formal dan informal, merupakan pengaturan kelembagaan yang penting bagi IUWM. Konsep ini menawarkan peluang signifikan untuk mengembangkan pengetahuan konseptual dan empiris terkait IUWM di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, yang menghadapi tantangan air perkotaan yang mendesak. Bab 3 mengkaji penerjemahan pendekatan IUWM ke dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan di tingkat kota dengan Makassar, Indonesia, sebagai studi kasus. Menggunakan analisis konten kualitatif terhadap dokumen kebijakan air dan pembangunan, studi ini mengevaluasi tingkat integrasi kebijakan air perkotaan serta kontribusi IUWM terhadap adaptasi perubahan iklim dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 6: air minum dan sanitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangkaan dan ketidakseimbangan air akibat perubahan iklim merupakan tantangan utama dalam pencapaian akses air minum universal. Meskipun telah terdapat inisiatif integrasi kebijakan pada skala regional, urban, dan lingkungan, integrasi tersebut masih memerlukan penguatan keselarasan internal antar-subsektor air serta keselarasan eksternal dengan perencanaan tata ruang dan perencanaan pembangunan daerah. Bab 4 memperluas analisis institusional dengan mengeksplorasi peran mekanisme informal dalam mendukung IUWM, yang cenderung diabaikan dalam studi IUWM sebelumnya yang berfokus pada struktur formal. Melalui analisis konten kualitatif dan wawancara semi-terstruktur, bab ini mengidentifikasi praktik-praktik informal di Makassar dan Mamminasata, Sulawasi Selatan. Berdasarkan perspektif sosiologis neo-institusional, bab ini mengeksplorasi bagaimana tradisi, budaya, nilai, dan norma lokal—sebagai mekanisme informal—menguatkan tata kelola air perkotaan. Analisis ini menyoroti mekanisme informal yang meliputi Tudang sipulung, Ngopi, dan Silaturahmi sebagai ruang dialog, serta dana bergulir dan gotong royong sebagai mekanisme kontribusi kolektif. Praktik-praktik ini berperan penting dalam mitigasi konflik penggunaan air, peningkatan akses air, dan pengelolaan kelangkaan air pada berbagai skala. Bab 5 menganalisis secara sistematis interaksi antara jaringan formal dan informal pada pengelolaan air terintegrasi di Makassar dan Mamminasata dengan menggunakan pendekatan Analisis Jaringan Sosial (Social Network Analysis/SNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme formal (seperti aturan resmi, regulasi, dan prosedur) dan mekanisme informal (seperti budaya, nilai-nilai, dan norma sosial) berfungsi sebagai elemen esensial dan saling melengkapi, mengungkapkan fitur struktural yang tertanam dan saling memperkuat dalam menangani masalah air perkotaan baik pada tingkat koordinasi kebijakan formal maupun pada tingkat implementasi di lapangan. Keempat pembahasan tersebut merujuk dua kebaruan utama disertasi ini yang terletak pada pengembangan pendekatan IUWM dan pengaturan kelembagaannya.vii Pertama, disertasi ini mengembangkan konsep pendekatan terpadu dalam pengelolaan air perkotaan dari perspektif Indonesia dengan tidak hanya berfokus pada internal coherence, yaitu integrasi sub-komponen air perkotaan saja dengan kelembagaanya, tapi juga dengan kohesi eksternal yang melihat hubungan kebijakan air perkotaan dan kebijakan terkait laiinya. Studi ini menyediakan bukti empiris bahwa menyelaraskan kohesi internal dan eksternal memainkan peran signifikan dalam perencanaan terintegrasi dan pendekatan IUWM di Indonesia. Kedua, dengan mengacu pada pendekatan “sociological institutional”, disertasi ini mengkonseptualisasikan tatanan kelembagaan dari pendekatan Pengelolaan Air Perkotaan Terpadu (IUWM), yang tidak hanya dibentuk oleh tatanan formal, tetapi juga oleh penekanan bahwa tradisi, budaya, norma, dan nilai-nilai lokal— sebagai tatanan informal—memainkan peran penting dalam memperkuat dan memastikan integrasi pengelolaan air perkotaan. Konsep ini didukung oleh interpretasi baru mengenai interaksi antara institusi formal dan informal, yang melampaui sekadar keselarasan antara keduanya; sebaliknya, keduanya saling tertanam dan saling melengkapi. Efektivitas IUWM diperkuat oleh interaksi antara mekanisme formal dan informal yang mendorong terbentuknya jaringan pemangku kepentingan, baik yang terbuka maupun tertutup, sehingga mendukung koordinasi, kolaborasi, dan pemahaman bersama. Berdasarkan konsep-konsep ini, disertasi ini mengusulkan pengaturan kelembagaan untuk Pengelolaan Air Perkotaan Terpadu yang menekankan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan: integrasi substantif, yang tercermin dalam koherensi internal dan eksternal, serta pengaturan kelembagaan yang dibentuk oleh interaksi antara mekanisme informal dan mekanisme formal. Kerangka kerja ini menyoroti beberapa peluang untuk peralihan dari kota-kota dengan masalah terkait air menuju keberlanjutan air perkotaan, termasuk mitigasi konflik terkait penggunaan air, peningkatan akses air perkotaan, dan penanganan kelangkaan air.