BAB 2 Asri Samsu
EMBARGO  2029-08-14 
EMBARGO  2029-08-14 
BAB 5 Asri Samsu
EMBARGO  2029-08-14 
EMBARGO  2029-08-14 
Fragmentasi pengelolaan air perkotaan telah diidentifikasi sebagai penyebab
utama krisis air perkotaan. Hal ini terutama terjadi di negara- negara berkembang
seperti Indonesia yang menghadapi tekanan perubahan iklim, pertumbuhan
penduduk, dan urbanisasi yang pesat. Pendekatan Pengelolaan Air Perkotaan
Terpadu (Integrated Urban Water Management/IUWM) semakin diakui sebagai
kerangka strategis untuk mengatasi fragmentasi tersebut melalui integrasi seluruh
subsektor air perkotaan ke dalam satu sistem pengelolaan yang koheren dan
berkelanjutan. Namun demikian, studi-studi yang ada mengenai pendekatan IUWM
sangat bervariasi tergantung pada masing-masing konteks perkotaan yang
mencerminkan perbedaan latar belakang sosial-ekonomi dan lingkungan mereka.
Meskipun jumlah literatur terkait semakin meningkat, pemahaman mengenai
IUWM dan pengaturan kelembagaannya masih terbatas dan terfragmentasi, baik
secara konseptual maupun empiris, khususnya dalam konteks Indonesia. Untuk
menjawab kesenjangan ini, disertasi ini bertujuan untuk mengembangkan
pengetahuan tentang Integrated Urban Water Management dengan memahami
hakikatnya dan menelaah kerangka kelembagaan yang membentuk pendekatan
terintegrasi tersebut di Indonesia.
Disertasi ini menggunakan pendekatan multi-metode dan disusun dalam empat
studi yang saling terkait. Bab 2 mengembangkan landasan konseptual IUWM
melalui Narrative Literature Review terhadap literatur internasional yang
bersumber dari basis data Scopus dan ScienceDirect. Studi ini menelaah
bagaimana IUWM dikonseptualisasikan terkait dengan keberlanjutan air dan
mengidentifikasi kunci pengaturan kelembagaan yang dibahas dalam penelitian
sebelumnya. Analisis tematik menunjukkan bahwa efektivitas IUWM sangat
bergantung pada koherensi internal dan koherensi eksternal dalam pengaturan
kelembagaan di tingkat kebijakan dan regulasi. Sama pentingnya adalah
keselarasan pengaturan lintas skala pemerintahan, dari tingkat regional hingga
lokal, yang memungkinkan pengelolaan air perkotaan secara terkoordinasi danvi
terintegrasi. Pada tingkat koordinasi dan implementasi, integrasi pendekatan topdown dan bottom-up - yang mendorong partisipasi pemangku kepentingan dalam
perencanaan dan pengambilan keputusan - disertai dengan penyelarasan
mekanisme formal dan informal, merupakan pengaturan kelembagaan yang
penting bagi IUWM. Konsep ini menawarkan peluang signifikan untuk
mengembangkan pengetahuan konseptual dan empiris terkait IUWM di Asia
Tenggara, khususnya Indonesia, yang menghadapi tantangan air perkotaan yang
mendesak.
Bab 3 mengkaji penerjemahan pendekatan IUWM ke dalam kebijakan dan
perencanaan pembangunan di tingkat kota dengan Makassar, Indonesia, sebagai
studi kasus. Menggunakan analisis konten kualitatif terhadap dokumen kebijakan
air dan pembangunan, studi ini mengevaluasi tingkat integrasi kebijakan air
perkotaan serta kontribusi IUWM terhadap adaptasi perubahan iklim dan
pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 6: air minum dan sanitasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangkaan dan ketidakseimbangan air
akibat perubahan iklim merupakan tantangan utama dalam pencapaian akses air
minum universal. Meskipun telah terdapat inisiatif integrasi kebijakan pada skala
regional, urban, dan lingkungan, integrasi tersebut masih memerlukan penguatan
keselarasan internal antar-subsektor air serta keselarasan eksternal dengan
perencanaan tata ruang dan perencanaan pembangunan daerah.
Bab 4 memperluas analisis institusional dengan mengeksplorasi peran mekanisme
informal dalam mendukung IUWM, yang cenderung diabaikan dalam studi IUWM
sebelumnya yang berfokus pada struktur formal. Melalui analisis konten kualitatif
dan wawancara semi-terstruktur, bab ini mengidentifikasi praktik-praktik informal
di Makassar dan Mamminasata, Sulawasi Selatan. Berdasarkan perspektif
sosiologis neo-institusional, bab ini mengeksplorasi bagaimana tradisi, budaya,
nilai, dan norma lokal—sebagai mekanisme informal—menguatkan tata kelola air
perkotaan. Analisis ini menyoroti mekanisme informal yang meliputi Tudang
sipulung, Ngopi, dan Silaturahmi sebagai ruang dialog, serta dana bergulir dan
gotong royong sebagai mekanisme kontribusi kolektif. Praktik-praktik ini berperan
penting dalam mitigasi konflik penggunaan air, peningkatan akses air, dan
pengelolaan kelangkaan air pada berbagai skala.
Bab 5 menganalisis secara sistematis interaksi antara jaringan formal dan
informal pada pengelolaan air terintegrasi di Makassar dan Mamminasata dengan
menggunakan pendekatan Analisis Jaringan Sosial (Social Network
Analysis/SNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme formal (seperti
aturan resmi, regulasi, dan prosedur) dan mekanisme informal (seperti budaya,
nilai-nilai, dan norma sosial) berfungsi sebagai elemen esensial dan saling
melengkapi, mengungkapkan fitur struktural yang tertanam dan saling memperkuat
dalam menangani masalah air perkotaan baik pada tingkat koordinasi kebijakan
formal maupun pada tingkat implementasi di lapangan.
Keempat pembahasan tersebut merujuk dua kebaruan utama disertasi ini yang
terletak pada pengembangan pendekatan IUWM dan pengaturan kelembagaannya.vii
Pertama, disertasi ini mengembangkan konsep pendekatan terpadu dalam
pengelolaan air perkotaan dari perspektif Indonesia dengan tidak hanya berfokus
pada internal coherence, yaitu integrasi sub-komponen air perkotaan saja dengan
kelembagaanya, tapi juga dengan kohesi eksternal yang melihat hubungan
kebijakan air perkotaan dan kebijakan terkait laiinya. Studi ini menyediakan bukti
empiris bahwa menyelaraskan kohesi internal dan eksternal memainkan peran
signifikan dalam perencanaan terintegrasi dan pendekatan IUWM di Indonesia.
Kedua, dengan mengacu pada pendekatan “sociological institutional”, disertasi
ini mengkonseptualisasikan tatanan kelembagaan dari pendekatan Pengelolaan
Air Perkotaan Terpadu (IUWM), yang tidak hanya dibentuk oleh tatanan formal,
tetapi juga oleh penekanan bahwa tradisi, budaya, norma, dan nilai-nilai lokal—
sebagai tatanan informal—memainkan peran penting dalam memperkuat dan
memastikan integrasi pengelolaan air perkotaan. Konsep ini didukung oleh
interpretasi baru mengenai interaksi antara institusi formal dan informal, yang
melampaui sekadar keselarasan antara keduanya; sebaliknya, keduanya saling
tertanam dan saling melengkapi. Efektivitas IUWM diperkuat oleh interaksi
antara mekanisme formal dan informal yang mendorong terbentuknya jaringan
pemangku kepentingan, baik yang terbuka maupun tertutup, sehingga mendukung
koordinasi, kolaborasi, dan pemahaman bersama.
Berdasarkan konsep-konsep ini, disertasi ini mengusulkan pengaturan
kelembagaan untuk Pengelolaan Air Perkotaan Terpadu yang menekankan dua
konsep yang tidak dapat dipisahkan: integrasi substantif, yang tercermin dalam
koherensi internal dan eksternal, serta pengaturan kelembagaan yang dibentuk
oleh interaksi antara mekanisme informal dan mekanisme formal. Kerangka kerja
ini menyoroti beberapa peluang untuk peralihan dari kota-kota dengan masalah
terkait air menuju keberlanjutan air perkotaan, termasuk mitigasi konflik terkait
penggunaan air, peningkatan akses air perkotaan, dan penanganan kelangkaan
air.
Perpustakaan Digital ITB