digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang beberapa kali dibahas dalam konteks pertumbuhan endogen wilayah. Namun, belum ada cukup penelitian yang menggali secara khusus, intensif, dan sistemik mengenai asal-muasal aspek personal dari kepemimpinan pengembangan wilayah serta kaitannya dengan pola kebijakan dan performa wilayah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan secara deskriptif kualitatif terbentuknya faktor-faktor dimensi personal kepemimpinan dan kaitannya terhadap proses serta luaran dari pengembangan wilayah. Penulis menggunakan pendekatan realisme kritis dengan menggunakan tiga lapisan ontologis Zachariadis (empiris, aktual, riil). Lapis empiris memaparkan mengenai performa wilayah, lapis aktual memaparkan mekanisme-mekanisme pola kebijakan dan kepemimpinan, sedangkan lapis riil memaparkan internalisasi latar-latar pengalaman hidup dari pemimpin wilayah. Khusus untuk lapis riil, penulis menggunakan teori ekologi Urie Bronfenbrenner. Penulis menggunakan tiga studi kasus untuk menjawab tujuan penelitian, yaitu kepemimpinan Suyoto di Bojonegoro (2008-2013; 2013-2018); kepemimpinan Hasto Wardoyo di Kulon Progo (2011-2016; 2017-2019); kepemimpinan Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi (2010-2015; 2016-2021). Hasil dari penelitian ini adalah ketiganya menginternalisasikan kemiskinan di awal hidup; kebijaksanaan dari orangtua; pendidikan tinggi; dan nilai-nilai agama (lapisan riil) hingga menginspirasi mekanisme kebijakan berlandaskan data, membuat sarana penjaringan feedback dari warga, serta sarat akan inovasi (lapisan aktual) dan pada akhirnya memicu peningkatan ekonomi dan pengurangan angka kemiskinan (lapisan empiris). Kepemimpinan Suyoto di Bojonegoro menampilkan luaran pada lapis empiris (seperti penurunan kemiskinan dan pembangunan jalan cor beton) dihasilkan oleh mekanisme kebijakan pada lapis aktual (seperti Bojonegoro Way dan praktik "Metani") yang berakar kuat pada fondasi lapis riil berupa nilai-nilai Islam yang inklusif namun berprinsip, pengalaman pendidikan, serta logika ayah dan integritas ibu yang ditempa dari seluruh rangkaian pengalaman hidup Suyoto. Kepemimpinan Hasto Wardoyo di Kulon Progo merupakan keterkaitan di mana penurunan kemiskinan yang signifikan serta lonjakan pertumbuhan ekonomi pada lapis i empiris digerakkan oleh mekanisme kebijakan berdaulat seperti gerakan "BelaBeli" pada lapis aktual yang terinspirasi teladan orangtua dan memori kemiskinan masa kecil pada lapis riil. Sedangkan kepemimpinan Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi membuahkan capaian di lapis empiris berupa peningkatan pendapatan per kapita, serta kemantapan infrastruktur fisik dan digital wilayah yang dipicu mekanisme kebijakan inovatif seperti pariwisata sebagai "sektor payung" dan program Smart Kampung pada lapis aktual dan terinspirasi dari latar belakang pesantren, etos wirausaha sejak dini, serta pendidikan global pada lapis riil. Adapun hasil penelitian ini berkontribusi untuk menunjukkan bagaimana menyibak aspek personal pemimpin secara mendalam beserta pola keterkaitannya dengan praktik kepemimpinan dan luaran yang terjadi dalam lingkup diskursus kepemimpinan pengembangan wilayah.