digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kebutuhan global akan energi bersih dan berkelanjutan semakin mendesak akibat krisis energi fosil dan meningkatnya emisi karbon yang mempercepat perubahan iklim. Oleh karena itu, salah satu energi terbarukan yang potensial adalah energi surya, khususnya melalui pemanfaatan sistem photovoltaic (PV) yang mampu mengubah energi matahari melalui foton menjadi listrik. Meskipun menjanjikan, penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sering terkendala oleh keterbatasan lahan, terutama di wilayah yang padat penduduk. Untuk mengatasi masalah tersebut, PLTS Terapung diperkenalkan sebagai alternatif dengan memanfaatkan permukaan air sebagai tempat instalasi PLTS. Pada penelitian ini diusulkan di danau bekas tambang timah atau kolong, yaitu Kolong Merawang 1 dan Kolong Merawang 2. Penelitian ini menganalisis 3 modul surya monofacial, bifacial, dan monofacial WE serta menganalisis tiga skenario ekonomi dari pembangunan PLTS Terapung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul surya bifacial lebih unggul dalam hal efisiensi dan produksi energi sebesar 3.455 MWh/tahun di Kolong Merawang 1 dan 2.469 MWh/Tahun di Kolong Merawang 2 dengan total keseluruhan produksi energi pertahun sebesar 5924 MWh/tahun. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan modul monofacial standar maupun monofacial WE. Analisis kinerja ekonomi menunjukkan bahwa skenario 1,2, dan 3 pada modul monofacial WE lebih unggul, dibandingkan modul monofacial dan bifacial dari aspek NPV, LCOE, IRR, PP. Secara aspek tekno-ekonomi, modul monofacial WE skenario 1 lebih unggul dibandingkan dengan modul monofacial dan bifacial. Hal ini menunjukkan bahwa PLTS Terapung di danau bekas tambang timah dapat direkomendasikan pembangunannya dengan mempertimbangkan aspek tekno-ekonomi.