Sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca
yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Di Indonesia, peningkatan
aktivitas angkutan logistik mendorong perlunya strategi dekarbonisasi yang lebih
komprehensif. Konsep green logistics menjadi pendekatan penting dalam
menurunkan dampak lingkungan seperti pengurangan emisi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi potensi implementasi green logistics berupa
reduksi emisi dari penggunaan bahan bakar terbarukan dan peralihan moda yang
terintegrasi dengan mekanisme perdagangan karbon untuk dikonversi menjadi
pendapatan baru. Pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif melalui
analisis permintaan, kapasitas, biaya logistik, peralihan moda, reduksi emisi, dan
potensi pendapatan. Data yang digunakan meliputi data primer (observasi
lapangan) dan data sekunder (literatur, data operasional, regulasi, dan laporan
perusahaan). Adapun pemodelan dilakukan dengan sistem dinamis dengan
hubungan kompleks antar subsistem guna menggambarkan perilaku sistem baik
terkini maupun proyeksi masa mendatang dari berbagai skenario
unimoda/multimoda dengan variasi kebijakan biodiesel 0—100% serta kebijakan
pembatasan truk 0—100%. Hasil penelitian menunjukkan variasi paling optimal
dihasilkan dari adanya kombinasi kedua intervensi kebijakan yakni B-100 K-100
pada tahun 2035, akumulasi reduksi emisi sebesar 5,4 juta ton CO2. Reduksi emisi
tersebut dapat dimonetisasi melalui perdagangan karbon melalui mekanisme
PTBAE-PU atau SPE-GRK sehingga menjadi potensi pendapatan baru yang
kemudian digunakan untuk pemenuhan investasi sarana KA melalui monetisasi
pendapatan baru sebesar 317 miliar. Potensi pengadaan sarana yang dapat
dilakukan mencapai 10 trainset dan berimplikasi pada potensi penambahan
frekuensi perjalanan KA sebanyak 3.879 perjalanan/tahun.
Perpustakaan Digital ITB