digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Di Indonesia, peningkatan aktivitas angkutan logistik mendorong perlunya strategi dekarbonisasi yang lebih komprehensif. Konsep green logistics menjadi pendekatan penting dalam menurunkan dampak lingkungan seperti pengurangan emisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi implementasi green logistics berupa reduksi emisi dari penggunaan bahan bakar terbarukan dan peralihan moda yang terintegrasi dengan mekanisme perdagangan karbon untuk dikonversi menjadi pendapatan baru. Pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif melalui analisis permintaan, kapasitas, biaya logistik, peralihan moda, reduksi emisi, dan potensi pendapatan. Data yang digunakan meliputi data primer (observasi lapangan) dan data sekunder (literatur, data operasional, regulasi, dan laporan perusahaan). Adapun pemodelan dilakukan dengan sistem dinamis dengan hubungan kompleks antar subsistem guna menggambarkan perilaku sistem baik terkini maupun proyeksi masa mendatang dari berbagai skenario unimoda/multimoda dengan variasi kebijakan biodiesel 0—100% serta kebijakan pembatasan truk 0—100%. Hasil penelitian menunjukkan variasi paling optimal dihasilkan dari adanya kombinasi kedua intervensi kebijakan yakni B-100 K-100 pada tahun 2035, akumulasi reduksi emisi sebesar 5,4 juta ton CO2. Reduksi emisi tersebut dapat dimonetisasi melalui perdagangan karbon melalui mekanisme PTBAE-PU atau SPE-GRK sehingga menjadi potensi pendapatan baru yang kemudian digunakan untuk pemenuhan investasi sarana KA melalui monetisasi pendapatan baru sebesar 317 miliar. Potensi pengadaan sarana yang dapat dilakukan mencapai 10 trainset dan berimplikasi pada potensi penambahan frekuensi perjalanan KA sebanyak 3.879 perjalanan/tahun.