Perluasan pertumbuhan kawasan perkotaan yang melampaui batas administratif
mendorong terbentuknya wilayah transisi yang berkembang cepat dengan dinamika
spasial, sosial, dan ekonomi yang kompleks. Wilayah tersebut kerap menghadapi
persoalan pengelolaan karena mekanisme perencanaan dan kelembagaan yang ada
masih berorientasi pada batas kewenangan formal, sementara aktivitas dan
keterkaitan wilayah bersifat lintas sektor dan lintas wilayah. Kondisi ini menjadikan
wilayah pinggiran kota rentan terhadap alih fungsi lahan yang tidak terkendali,
tekanan terhadap lingkungan, serta keterbatasan layanan dasar. Fenomena tersebut
terlihat pada Desa Way Huwi di Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung
Selatan, yang berkembang pesat seiring keterkaitannya secara fungsional dengan
Kota Bandar Lampung dan keberadaan infrastruktur strategis di sekitarnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi pengelolaan wilayah yang
tumbuh cepat serta memahami bentuk dan dinamika kelembagaan yang terlibat
dalam pengelolaannya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam
dengan aktor kunci yang terlibat dalam pengelolaan wilayah. Analisis data
dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan kondisi pengelolaan
wilayah, serta analisis isi untuk mengidentifikasi pola kelembagaan dan hubungan
antar aktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah studi mengalami
perubahan signifikan yang ditandai oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi
kawasan terbangun, berkembangnya aktivitas perdagangan dan jasa, munculnya
bangunan informal, serta meningkatnya permasalahan lingkungan. Namun,
pengelolaan wilayah masih didominasi oleh pendekatan normatif dan sektoral yang
bertumpu pada pembagian kewenangan administratif. Koordinasi antar aktor belum
terbangun secara efektif dan belum didukung oleh mekanisme pengelolaan
kawasan yang terintegrasi.
Perpustakaan Digital ITB