digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Ketergantungan industri tekstil nasional terhadap impor serat kapas mendorong perlunya pengembangan sumber bahan baku alternatif yang dapat diproduksi secara lokal dan berkelanjutan. Rami (Boehmeria nivea) merupakan salah satu tanaman serat yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan karena produktivitasnya baik, dapat dipanen berulang, serta memiliki karakteristik serat yang unggul. Kecamatan Lembang memiliki kondisi agroklimat, topografi, dan akses pasar yang dinilai mendukung untuk pengembangan budidaya rami. Namun demikian, pengembangan komoditas ini memerlukan evaluasi kelayakan yang komprehensif agar implementasinya tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara sosial, lingkungan, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis wilayah potensial budidaya rami, (2) menilai kelayakan usaha berdasarkan aspek teknis, manajemen, sosial, lingkungan, pasar, dan finansial, serta (3) merumuskan strategi pengembangan budidaya rami di Kecamatan Lembang. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan kombinasi data kuantitatif dan kualitatif. Analisis spasial dilakukan untuk menilai kesesuaian lahan berdasarkan parameter biofisik. Data sosial diperoleh melalui kuesioner kepada petani menggunakan stratified random sampling dan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan. Kelayakan finansial dianalisis melalui indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Payback Period (PP). Perumusan strategi dilakukan menggunakan matriks SWOT dan dilanjutkan dengan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian wilayah Kecamatan Lembang memiliki tingkat kesesuaian lahan yang memadai untuk budidaya rami, didukung oleh kondisi tanah, ketinggian, serta ketersediaan air. Dari aspek teknis dan manajemen, sistem budidaya dan dukungan kelembagaan dinilai dapat diimplementasikan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Secara sosial, tingkat penerimaan masyarakat tergolong baik meskipun masih terdapat kekhawatiran terkait risiko usaha dan kepastian pasar. Dari sisi lingkungan, potensi dampak dapat dikendalikan melalui praktik konservasi tanah dan pengelolaan biomassa. Analisis pasar memperlihatkan adanya peluang permintaan serat rami, terutama dengan dukungan mitra off-taker. Evaluasi finansial menunjukkan bahwa usaha budidaya rami layak dijalankan dengan nilai NPV dengan nilai Rp541,54 juta; IRR dengan nilai 56%; Net B/C dengan nilai 1,6; serta PP dalam waktu sekitar 1-2 tahun. Berdasarkan analisis SWOT dan QSPM, strategi prioritas pengembangan diarahkan pada penguatan kemitraan industri, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan teknis, serta optimalisasi pemanfaatan lahan sesuai kesesuaian biofisik wilayah. Strategi ini memiliki implikasi berbeda bagi setiap stakeholder, di mana petani difokuskan pada peningkatan kapasitas teknis, perusahaan pada penguatan jaminan pasar dan pendampingan produksi, serta pemerintah pada penyediaan dukungan kebijakan dan kelembagaan.