COVER Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 6 Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 7 Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Fadussy Cinde Adani
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Kereta Cepat Whoosh mempercepat perjalanan antarkota Jakarta–Bandung, namun pengguna tetap membutuhkan moda transportasi penghubung dari dan menuju stasiun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pengguna dan perjalanan, pilihan moda transportasi penghubung, serta tingkat kepentingan atribut layanan menurut pengguna Kereta Cepat Whoosh di sisi Bandung. Lokasi penelitian meliputi Stasiun Tegalluar Summarecon, Stasiun Padalarang, dan Stasiun Bandung sebagai simpul lanjutan/intermoda. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data primer yang diperoleh melalui kuesioner dan peninjauan lapangan. Dari 116 respons yang terkumpul, diperoleh 102 respons valid untuk dianalisis. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, serta metode Relative Importance Index (RII) untuk menentukan tingkat kepentingan atribut layanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden didominasi oleh kelompok usia 18–30 tahun, berdomisili Jabodetabek, dengan tujuan perjalanan utama wisata dan lama kunjungan 1–3 hari. Pilihan moda transportasi penghubung menunjukkan pola yang berbeda pada setiap stasiun. Stasiun Tegalluar Summarecon didominasi oleh moda privat/individual sebesar 80%, terutama transportasi daring/taksi dan rental mobil/supir. Stasiun Padalarang didominasi oleh moda umum/kolektif sebesar 86,1%, terutama KA Feeder Whoosh sebesar 83,3%. Sementara itu, Stasiun Bandung kembali didominasi oleh moda privat/individual sebesar 91,9%, terutama transportasi daring/taksi sebesar 72,6%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pilihan moda penghubung berkaitan dengan karakter akses dan integrasi moda pada masing-masing stasiun. Hasil RII menunjukkan bahwa seluruh atribut layanan
memiliki tingkat kepentingan tinggi, dengan prioritas tertinggi pada keamanan, keandalan, kemudahan akses, waktu tempuh, ketersediaan moda, dan integrasi antarmoda. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan transportasi penghubung Whoosh perlu memperhatikan tidak hanya ketersediaan moda, tetapi juga kualitas akses, keandalan, keamanan, dan integrasi layanan menuju tujuan akhir pengguna.
Perpustakaan Digital ITB