digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 6 Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

PUSTAKA Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN Hani Maharani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Pertumbuhan kepadatan lalu lintas dan pengembangan sistem transportasi umum terintegrasi di Kota Jakarta belum tentu menjamin manfaat mobilitas yang setara bagi seluruh kelompok pengguna, khususnya penyandang disabilitas atau People with Disability (PWD), yang masih berpotensi menghadapi hambatan aksesibilitas fisik, platform/digital, maupun informasi. Ketimpangan distribusi spasial fasilitas transportasi publik turut memengaruhi karakteristik pergerakan PWD, sehingga penting dikaji sejauh mana transport justice dan spatial justice tercermin dalam pengalaman mobilitas mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat inklusivitas aksesibilitas transportasi umum dan karakteristik pergerakan PWD di Kota Jakarta, dengan tiga sasaran: mengidentifikasi indikator dan persepsi aksesibilitas PWD; mengidentifikasi karakteristik dan pola pergerakan PWD; serta mengidentifikasi keterkaitan antara kondisi aksesibilitas infrastruktur dengan karakteristik perjalanan PWD. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif didukung analisis spasial pola pergerakan (origin-destination), dengan data dikumpulkan melalui survei kuesioner dan trip diary terhadap 100 responden PWD di Kota Jakarta secara purposive sampling, berlandaskan konsep transportrelated exclusion (Lucas, 2012) dan Mobility as a Service (MaaS). Hasil penelitian menunjukkan persepsi PWD terhadap aksesibilitas fisik secara umum berada pada kategori Baik hingga Sangat Baik berdasarkan nilai modus tiap butir, dengan skor terendah pada ketersediaan guiding block. Aksesibilitas platform juga berada pada kategori Baik, namun lemah pada transparansi subsidi tarif khusus disabilitas. Aksesibilitas informasi turut berada pada kategori Baik, namun lemah pada informasi ketersediaan tempat duduk. Segregasi persepsi berdasarkan jenis disabilitas menunjukkan bahwa kelompok fisik menilai ketersediaan ramp/lift lebih kritis dibandingkan kelompok lain, kelompok sensorik menilai kondisi jalur pejalan kaki lebih rendah, sementara kelompok tak tampak dan mental menilai pengakuan sosial terhadap kursi prioritas paling rendah, mengindikasikan bahwa kebutuhan aksesibilitas antar ragam disabilitas tidak seragam. Temuan ini menegaskan bahwa hambatan utama transportasi umum bagi PWD di Jakarta bukan terletak pada aspekii fisik infrastruktur yang secara umum sudah dipersepsikan baik, melainkan pada aspek transparansi dan aksesibilitas informasi. Karakteristik pergerakan PWD didominasi perjalanan sederhana 2–3 kali sehari dengan moda TransJakarta (38,7%) dan MRT (31,2%), serta 65,8% perjalanan dilakukan mandiri tanpa pendamping. Pergerakan PWD terkonsentrasi di Jakarta Selatan dan Pusat yang memiliki cakupan layanan paling lengkap, menunjukkan hubungan searah antara kualitas aksesibilitas suatu wilayah dengan intensitas pergerakan PWD di wilayah tersebut dan merepresentasikan ketimpangan spasial aksesibilitas transportasi umum. Analisis keterkaitan (cross tab) antara aksesibilitas fisik dan pola pergerakan pada kelompok yang relevan secara fungsional, yaitu disabilitas fisik dan sensorik, memperkuat temuan tersebut dengan menunjukkan keterkaitan langsung antara ketersediaan fasilitas fisik dan intensitas maupun kemandirian perjalanan kedua kelompok. Penelitian ini merekomendasikan pemerataan infrastruktur fisik antarwilayah, peningkatan transparansi informasi tarif dan subsidi disabilitas, pengembangan fitur informasi tempat duduk pada aplikasi Jaklingko, serta penguatan standar keselamatan dan pendampingan pada layanan TransJakarta Cares.