digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Satrio Budi Wicaksono
PUBLIC Open In Flipbook Ridha Pratama Rusli

Gliserol kasar yang dihasilkan dari proses lipolisis trigliserida berbantuan enzim lipase berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku sintesis triasetin, senyawa bernilai tinggi yang banyak digunakan sebagai plasticizer, aditif pangan, pelarut farmasi, dan aditif bahan bakar. Namun, gliserol kasar tersebut masih mengandung berbagai zat pengotor berrupa air, buffer, trigliserida, monogliserida, dan asam lemak bebas yang berpotensi menurunkan yield dan selektivitas reaksi esterifikasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh masing-masing zat pengotor terhadap yield triasetin pada reaksi esterifikasi gliserol dengan asam asetat menggunakan katalis heterogen Sulphated Siliceous Zirconia (SSZ-550). Katalis disintesis melalui sulfatasi matriks Si(OH)?–Zr(OH)? dan dikarakterisasi dengan XRD, BET, dan NH?-TPD, menghasilkan katalis dengan fasa dominan Zr(SO?)? (89%), luas permukaan 29,34 m²/g, dan total keasaman 1,687 mmol/g. Esterifikasi gliserol murni pada kondisi optimum (100 °C, rasio molar gliserol:asam asetat 1:9, 2 jam) memberikan yield triasetin acuan sebesar ~24%. Penambahan zat pengotor pada berbagai konsentrasi secara konsisten menurunkan yield triasetin secara signifikan (uji ANOVA satu arah, ? = 0,05) dibandingkan kontrol, dengan air dan buffer memberikan penurunan paling ekstrem akibat pergeseran kesetimbangan reaksi dan deaktivasi situs asam katalis melalui adsorpsi kompetitif serta pertukaran ion. Monogliserida, asam lemak bebas, dan trigliserida juga menurunkan yield melalui mekanisme peracunan situs aktif (active site poisoning) dan reaksi samping seperti asidolisis serta gliserolisis. Temuan ini menunjukkan bahwa gliserol kasar hasil lipolisis tidak dapat langsung digunakan sebagai bahan baku triasetin tanpa pemurnian awal, sehingga diperlukan tahapan prapengolahan seperti dekantasi/sentrifugasi, asidifikasi, ion-exchange, dan evaporasi air agar potensi limbah lipolisis dapat dimanfaatkan secara ekonomis dan berkelanjutan dalam produksi triasetin