Gliserol kasar yang dihasilkan dari proses lipolisis trigliserida berbantuan enzim
lipase berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku sintesis triasetin, senyawa
bernilai tinggi yang banyak digunakan sebagai plasticizer, aditif pangan, pelarut
farmasi, dan aditif bahan bakar. Namun, gliserol kasar tersebut masih mengandung
berbagai zat pengotor berrupa air, buffer, trigliserida, monogliserida, dan asam
lemak bebas yang berpotensi menurunkan yield dan selektivitas reaksi esterifikasi.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh masing-masing zat pengotor
terhadap yield triasetin pada reaksi esterifikasi gliserol dengan asam asetat
menggunakan katalis heterogen Sulphated Siliceous Zirconia (SSZ-550). Katalis
disintesis melalui sulfatasi matriks Si(OH)?–Zr(OH)? dan dikarakterisasi dengan
XRD, BET, dan NH?-TPD, menghasilkan katalis dengan fasa dominan Zr(SO?)?
(89%), luas permukaan 29,34 m²/g, dan total keasaman 1,687 mmol/g. Esterifikasi
gliserol murni pada kondisi optimum (100 °C, rasio molar gliserol:asam asetat 1:9,
2 jam) memberikan yield triasetin acuan sebesar ~24%. Penambahan zat pengotor
pada berbagai konsentrasi secara konsisten menurunkan yield triasetin secara
signifikan (uji ANOVA satu arah, ? = 0,05) dibandingkan kontrol, dengan air dan
buffer memberikan penurunan paling ekstrem akibat pergeseran kesetimbangan
reaksi dan deaktivasi situs asam katalis melalui adsorpsi kompetitif serta pertukaran
ion. Monogliserida, asam lemak bebas, dan trigliserida juga menurunkan yield
melalui mekanisme peracunan situs aktif (active site poisoning) dan reaksi samping
seperti asidolisis serta gliserolisis. Temuan ini menunjukkan bahwa gliserol kasar
hasil lipolisis tidak dapat langsung digunakan sebagai bahan baku triasetin tanpa
pemurnian awal, sehingga diperlukan tahapan prapengolahan seperti
dekantasi/sentrifugasi, asidifikasi, ion-exchange, dan evaporasi air agar potensi
limbah lipolisis dapat dimanfaatkan secara ekonomis dan berkelanjutan dalam
produksi triasetin
Perpustakaan Digital ITB