Pada pertengahan 2025, sebuah perusahaan solusi geospasial melakukan
rebranding strategis dengan mengadopsi nama GeoSurv Indonesia dan
memperbarui visi serta misinya. Hal tersebut disebabkan oleh persaingan harga
yang ketat, tidak adanya fungsi pemasaran yang terstruktur, serta ketergantungan
yang tinggi pada jaringan pribadi pendiri dan tender pemerintah untuk
memperoleh klien. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi
pengembangan pasar bagi GeoSurv dengan menentukan pasar sasaran yang paling
sesuai dari tiga pasar potensial, yaitu pengembangan gim, konstruksi dan
perencanaan kota, serta pemerintah daerah, mengidentifikasi kebutuhan dan
tantangan pelanggan pada pasar yang dipilih, dan merancang strategi pemasaran
yang tepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan
data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap dua
perwakilan perusahaan dan enam perwakilan dari ketiga pasar potensial. Data
tersebut didukung oleh data sekunder yang meliputi laporan industri, dokumen
regulasi, catatan internal perusahaan, dan informasi kompetitor. Data wawancara
dianalisis menggunakan metodologi Gioia dan beberapa kerangka analisis
strategis. Analisis wawancara pasar potensial menghasilkan enam dimensi agregat
yang meliputi permintaan, hambatan adopsi, unit pengambil keputusan, kriteria
pemilihan vendor, faktor retensi vendor, dan ekspektasi layanan. Pada industri
pengembangan gim, permintaan masih terbatas karena rendahnya kesadaran
terhadap layanan serta ketersediaan alternatif gratis. Pada pasar konstruksi dan
perencanaan kota, permintaan bersifat stabil dan pelanggan membutuhkan data
yang lengkap serta siap digunakan, khususnya untuk perhitungan pekerjaan tanah,
sementara keputusan pembelian ditentukan oleh insinyur dan tim teknis. Pada
pasar pemerintah daerah, permintaan juga relatif stabil, namun sering kali
terhambat oleh keterbatasan anggaran. Tantangan yang ditemukan pada ketiga
pasar meliputi persaingan dari metode manual dan alternatif gratis, rendahnya
kesadaran terhadap nilai layanan yang ditawarkan, ketidakjelasan struktur harga,
serta preferensi terhadap vendor yang memiliki rekam jejak yang telah terbukti.
Berdasarkan temuan tersebut serta hasil analisis industri dan internal perusahaan,
pasar konstruksi dan perencanaan kota dipilih sebagai pasar sasaran yang paling
sesuai dengan fokus awal pada proyek design-and-build swasta dengan nilai di
bawah sekitar satu miliar rupiah. Pasar pemerintah daerah diposisikan sebagai
pasar sekunder yang akan dikembangkan setelah perusahaan memiliki rekam jejak
yang lebih kuat, sedangkan pasar pengembangan gim dipertahankan sebagai
peluang jangka panjang. Untuk memasuki pasar sasaran tersebut, GeoSurv perlu
menerapkan strategi pengembangan pasar blue ocean yang berfokus pada pembeli
teknis dalam proyek design-and-build. Sebelumnya perusahaan mengasumsikan
bahwa arsitek merupakan pengguna utama layanannya, namun hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengguna dan pengambil keputusan yang sebenarnya adalah
fungsi teknis seperti insinyur sipil dan tim design-and-build. Berdasarkan temuan
tersebut, produk MapReady perlu diposisikan ulang sebagai solusi siap pakai untuk
kebutuhan teknik yang menggabungkan data medan tiga dimensi yang akurat,
analisis cut-and-fill, pemetaan infrastruktur, dan jaminan layanan. Didukung oleh
bauran pemasaran tujuh P dan rencana implementasi bertahap selama dua puluh
empat bulan, strategi ini bertujuan membangun fungsi pemasaran dan penjualan
yang khusus, menciptakan jalur pemasaran multi-kanal, serta mengurangi
ketergantungan pada jaringan pribadi pendiri. Dengan mengutamakan
transparansi harga, posisi berbasis nilai, dan dokumentasi referensi proyek,
GeoSurv dapat bersaing berdasarkan nilai yang diberikan dibandingkan semata
mata berdasarkan harga.
Perpustakaan Digital ITB