digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri Food and Beverage (F&B) pasca-pandemi di Jawa Barat mencatatkan pertumbuhan agresif sebesar 15,53%, namun membawa tantangan saturasi pasar yang tinggi. RM. Laksana, sebuah restoran warisan (heritage) di Kuningan, menghadapi masalah strategis berupa "Kebingungan Merek" (Brand Confusion) akibat penggunaan nama generik yang serupa dengan kompetitor tidak terafiliasi di Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi merek RM. Laksana dalam benak konsumen dan merumuskan strategi identitas merek untuk memperkuat diferensiasi. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang didukung oleh analisis deskriptif (descriptive analysis). Tahap diagnostik dilakukan secara deskriptif menggunakan instrumen Pemetaan Perseptual (Perceptual Mapping) terhadap 42 pelanggan internal dan 32 responden eksternal untuk memetakan dimensi Harga dan Autentisitas. Tahap formulasi strategi dilakukan secara kualitatif melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pemilik menggunakan kerangka kerja Strategic Branding Balakrishnan. Hasil analisis deskriptif mengungkap adanya "Kekosongan Pemasaran" (Marketing Void); pelanggan internal memposisikan merek sebagai High Genuineness (Kuadran 1) dengan skor kredibilitas tinggi (6,31), sementara persepsi eksternal menganggapnya sebagai "Komoditas Generik" dengan autentisitas rendah (3,96). Merespons temuan ini, penelitian merumuskan strategi "The Guardian of Heritage". Strategi ini mentransformasi integritas operasional internal, seperti larangan penggunaan ikan mati dan bumbu instan, menjadi diferensiator eksternal utama. Implementasi mencakup strategi harga Confidence Pricing, narasi komunikasi "Taste Never Lies", dan identitas visual hibrida. Solusi ini dirancang untuk menarik segmen Quality Seekers dan mengeliminasi kebingungan pasar tanpa mengubah nama historis restoran.