Permasalahan utama dalam tata kelola Wana Wisata Ranca Upas (WWRU) adalah ketiadaan perencanaan kawasan berbasis data baseline presisi yang berdampak pada penumpukan massa pengunjung (crowding) dan tidak terukurnya daya dukung lingkungan kawasan Hutan Lindung. Penelitian ini mengkaji potensi wisata alam dan kelayakan pengembangan ekowisata di zona produktif WWRU seluas 33,7 hektar yang terletak di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan mencakup observasi fisik kawasan dan skoring 15 unsur berdasarkan pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA), perhitungan daya dukung kawasan, penyebaran kuesioner kepada 100 responden wisatawan domestik (convenience sampling dengan rumus Slovin margin of error 10%), wawancara terstruktur bersama 3 informan kunci pihak pengelola (purposive sampling hingga data saturation), serta perumusan prioritas strategi menggunakan analisis kombinasi SWOT dan Quantitative Strategic Programming Matrix (QSPM). Hasil analisis ADO-ODTWA menunjukkan WWRU memperoleh total skor terbobot 6.386 dari skor maksimum 6.940, yang menghasilkan indeks kelayakan kumulatif sebesar 92,01% (Kategori Sangat Layak). Sebanyak 5 dari 15 unsur memperoleh indeks sempurna (100%), yaitu Kondisi Sekitar Kawasan, Sarana Prasarana Penunjang, Akomodasi, Keamanan, dan Pemasaran. Keterbatasan kawasan teridentifikasi pada unsur Pengaturan Pengunjung (50,00%), Daya Dukung Kawasan (58,33%), serta Hubungan dengan Objek Wisata Sekitar (15,25%). Perhitungan daya dukung riil v
dan manajemen menghasilkan Effective Carrying Capacity (ECC) sebesar 723 orang/hari, yang mengungkapkan kesenjangan tajam terhadap kuota harian operasional pengelola sebesar 1.600 orang/hari. Pada tahap matriks keputusan QSPM, Strategi SO (Strengths-Opportunities) memperoleh nilai Sum Total Attractiveness Score (STAS) tertinggi sebesar 4,41 (Prioritas Utama), diikuti Strategi WO (4,01), Strategi ST (3,76), dan Strategi WT (2,79). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa WWRU sangat layak dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berkelanjutan dengan memprioritaskan penyusunan paket wisata tematik terpadu berbasis keunggulan ekologis serta ekspansi pemasaran digital. Implikasi dan rekomendasi praktis bagi pengelola adalah mempercepat penerapan sistem manajemen alur pengunjung (visitor flow management) berbasis e-ticketing untuk membatasi kuota harian secara ketat sesuai nilai ECC, mengaktifkan jalur penjelajahan Healing Forest sebagai pemecah konsentrasi massa, serta mempertahankan struktur bangunan non-permanen guna menjamin kepatuhan regulasi Hutan Lindung (UU No. 41/1999 dan PP No. 23/2021).
Perpustakaan Digital ITB