Tebang habis pada hutan tanaman jati memindahkan karbon yang tersimpan
dalam tegakan, tetapi hasil penebangan umumnya hanya dicatat dalam volume
kayu sehingga besarnya karbon yang terangkut keluar dan yang tertinggal di petak
tidak diketahui. Penelitian ini bertujuan mengestimasi biomassa dan simpanan
karbon tegakan jati sebelum penebangan, mengestimasi karbon yang tertinggal
pada tunggul dan akar setelah penebangan beserta sensitivitasnya terhadap
keutuhan tunggul, serta distribusi stok karbon pascapanen di petak tebang Blok 1
(4 ha) Perum Perhutani KPH Ciamis, Jawa Barat. Data tegakan berasal dari tabel
inventarisasi KPH yang diukur dua tahun sebelum penebangan (62 pohon; umur
37 tahun saat inventarisasi dan 39 tahun saat ditebang), sedangkan tunggul diukur
setelah penebangan pada Januari 2026 dalam 7 plot 20 m × 20 m yang
ditempatkan secara acak (intensitas sampling 7%). Biomassa tegakan diduga
dengan pendekatan volume menggunakan kerapatan kayu IPCC (0,525 ton/m³) dan
rasio akar-pucuk 0,20, sedangkan volume tunggul diduga dengan model frustum.
Simpanan karbon tegakan sebelum penebangan sebesar 27,97 ton C/ha (102,54 ton
CO?e/ha). Pada saat penebangan, 21,81 ton C/ha (78,0%) diestimasi berada pada
komponen kayu yang tidak lagi berada pada petak, sedangkan 6,16 ton C/ha
(22,0%) tertinggal sebagai akar (4,66 ton C/ha) dan tunggul (1,50 ton C/ha).
Analisis sensitivitas menunjukkan karbon tunggul yang masuk akal berada pada
0,50–1,50 ton C/ha dengan indeks 6,76 × f kg C per tunggul, sedangkan proporsi
karbon tertinggal tetap berada pada 18,5–22,0% karena didominasi akar. Setiap 1
m³ volume inventarisasi setara dengan 0,315 ton C, dengan 0,246 ton C terangkut
dan 0,069 ton C tertinggal. Hasil ini mewakili petak tebang yang diteliti dan dapat
digunakan sebagai dasar pencatatan karbon pascapanen di tingkat petak.
Perpustakaan Digital ITB