digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Ekosistem hutan pegunungan tropis Jawa Barat menyimpan spesies pohon lokal yang berperan ekologis penting namun fungsinya belum banyak dikaji melalui pendekatan ekologi fungsional. Kerangka Leaf Economics Spectrum (LES) menawarkan cara mendudukkan variasi trait morfologi dan kimia daun ke dalam satu sumbu strategi hidup akuisitif-konservatif yang dapat dibandingkan lintas spesies, namun integrasi trait biokimia yang mencerminkan toleransi tumbuhan terhadap tekanan lingkungan pegunungan ke dalam kerangka ini masih terbatas, khususnya untuk spesies pohon lokal Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan lima spesies lokal (Schima wallichii (Puspa) , Manglietia glauca (Manglid), Syzygium cerasiforme (Ki Sireum), Syzygium polyanthun (Salam), dan Tarrenoidea wallichii (Ki Cangkudu)) yang bertujuan untuk: (1) menentukan variasi karakteristik morfologi dan kimia daun pada lima spesies pohon pegunungan Jawa Barat; (2) menganalisis keterkaitan antara variasi karakteristik morfologi dan kimia daun pada kelima spesies tersebut; dan (3) menentukan posisi kelima spesies dalam kerangka Leaf Economics Spectrum berdasarkan integrasi variasi karakteristik morfologi dan kimia daun. Sebanyak enam trait daun yaitu luas daun (LA), luas daun spesifik (SLA), kandungan bahan kering daun (LDMC), kandungan klorofil, kandungan prolin, dan kapasitas antioksidan (IC50) diukur pada 25 individu dari kelima spesies. Trait morfologi diukur mengikuti protokol saturasi air standar, klorofil diukur non-destruktif menggunakan SPAD meter, kapasitas antioksidan diuji dengan metode DPPH, dan kandungan prolin diukur dengan metode ninhidrin asam. Keterkaitan antartrait diuji menggunakan korelasi Pearson, sedangkan posisi tiap spesies pada kerangka LES ditentukan melalui analisis komponen utama (PCA) atas keenam trait yang telah distandardisasi. v Hasil menunjukkan variasi antarspesies yang lebar pada trait morfologi, LA bervariasi sekitar tiga kali (CV=29,9%), SLA empat kali (CV=36,5%), dan LDMC dua kali (CV=17,8%) sementara klorofil relatif stabil (CV=14,8%) dan prolin merupakan trait paling variatif (CV=118,2%), terutama pada Ki Sireum. Dari 15 pasangan trait yang diuji, tiga pasangan berkorelasi signifikan (p<0,05), seluruhnya melibatkan luas daun: LA–LDMC (r=-0,51), LA–klorofil (r=-0,50), dan LA–prolin (r=-0,48), membentuk pola dilusi konsentrasi trait seiring pembesaran luas daun, sedangkan SLA dan IC50 tidak berkorelasi signifikan dengan trait lain, mengindikasikan variasi keduanya lebih ditentukan oleh karakter spesies. Berdasarkan integrasi keenam trait dalam kerangka LES, Puspa dan Manglid menempati ujung akuisitif (fast-growing) spektrum dengan daun tipis dan investasi pertahanan rendah, sementara Ki Sireum, Ki Cangkudu, dan Salam menempati ujung konservatif (slow-growing) namun melalui jalur pertahanan yang berbeda, Ki Sireum mengandalkan penyesuaian osmotik lewat prolin, sedangkan Ki Cangkudu dan Salam mengandalkan kapasitas antioksidan non-osmotik. Temuan ini menjawab ketiga tujuan penelitian: mengonfirmasi adanya variasi trait morfologi dan kimia daun yang nyata antarspesies, mengungkap pola keterkaitan trait yang didominasi oleh peran luas daun, serta memosisikan kelima spesies pada kerangka LES dengan jalur pertahanan yang berbeda-beda di dalam kelompok konservatif. Hasil ini menegaskan bahwa pola LES tetap berlaku pada spesies pohon lokal pegunungan Jawa Barat, dan pengelompokan akuisitif–konservatif ini berpotensi menjadi informasi tambahan untuk indikasi awal mengenai kesesuaian kondisi lingkungan tanam bagi masing-masing spesies namun, masih perlu dilakukan validasi dilapangan.