digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Skor PISA Indonesia stagnan sejak tahun 2000 meskipun kurikulum nasional sudah lima kali diganti, namun belum ada penelitian yang menguji apakah pergantian kurikulum berhubungan dengan capaian belajar setelah faktor pengganggu dikontrol. Penelitian ini mengajukan tiga pertanyaan: apakah perbedaan antar era kurikulum bertahan setelah dikontrol, faktor apa yang konsisten menahan capaian di semua era, dan program apa yang seharusnya diprioritaskan. Penelitian menggunakan desain explanatory sequential mixed methods. Delapan siklus PISA dianalisis dengan regresi multilevel yang mengontrol mode tes, cakupan populasi, dan tren waktu, lalu diintegrasikan dengan analisis tematik atas wawancara enam pemangku kepentingan kebijakan senior melalui convergence matrix. Perbedaan antar era tidak bertahan. Era K-13 tidak dapat dibedakan secara statistik dari baseline 1994 di ketiga domain, dan koefisien matematikanya melonjak dari +18,9 (tidak signifikan) menjadi +52,8 (signifikan) ketika kontrol cakupan dilepas. Sebaliknya, empat faktor struktural bertahan (status sosial-ekonomi keluarga, tinggal kelas, lokasi sekolah, dan ukuran sekolah) dengan intraclass correlation 0,28 hingga 0,51 yang menunjukkan segmentasi antarsekolah yang dalam. Asimetri ini bersifat sistematis. Kurikulum menjangkau siswa hanya melalui praktik guru, jalur yang melemah dan tertunda, sedangkan faktor struktural bekerja langsung dan tidak ikut berubah ketika dokumen kurikulum diganti. Kurikulum bukan tuas paling efektif untuk alokasi kapasitas reformasi berikutnya. Diusulkan arsitektur berlapis: stabilitas kurikulum sebagai prasyarat, pemerataan mutu antarwilayah sebagai prioritas payung, dan tiga pilar pendukung yang dijalankan melalui kanal pembiayaan yang sudah ada. Hasil bersifat asosiatif, bukan kausal.