Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) telah menjadi instrumen kebijakan yang penting bagi pemerintah untuk memperkuat industri domestik, mendorong penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah nasional. Di Indonesia, pemerintah menetapkan tingkat kandungan lokal minimum sebesar 40% untuk produk yang digunakan dalam pengadaan pemerintah. Regulasi ini memberikan dampak signifikan terhadap industri yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur nasional, termasuk sektor manufaktur kabel serat optik. Seiring dengan percepatan pengembangan infrastruktur digital di Indonesia untuk mendukung konektivitas nasional serta agenda pembangunan jangka panjang dalam kerangka Visi Indonesia Emas 2045, permintaan terhadap kabel serat optik terus meningkat. Namun demikian, implementasi kebijakan TKDN di industri ini masih menghadapi berbagai tantangan struktural, khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan dan daya saing bahan baku yang diproduksi di dalam negeri.
Penelitian ini mengkaji strategi implementasi dan peningkatan kandungan lokal dalam industri manufaktur kabel serat optik melalui studi kasus pada PT ZTT Indonesia. Sebagai salah satu produsen kabel utama yang mendukung proyek infrastruktur kelistrikan dan telekomunikasi nasional, PT ZTT Indonesia harus memenuhi ketentuan TKDN sekaligus menjaga efisiensi operasional dan daya saing produknya. Meskipun perusahaan telah menunjukkan kemajuan dalam meningkatkan tingkat kandungan lokal pada produknya, perusahaan masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Secara khusus, komponen penting pada lapisan pelindung kabel serat optik sebagian besar masih diperoleh dari pemasok luar negeri, yang disebabkan oleh keterbatasan kapasitas produksi serta konsistensi kualitas dari produsen domestik. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, menganalisis potensi manfaat dari peningkatan nilai kandungan lokal bagi PT ZTT Indonesia. Kedua, mengidentifikasi tantangan utama yang dihadapi perusahaan dalam memenuhi ketentuan TKDN. Ketiga, merumuskan jalur strategi yang dapat mendukung peningkatan kinerja kandungan lokal secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan fokus pada perspektif manufaktur dan rantai pasok. Data diperoleh melalui dokumentasi internal perusahaan, analisis regulasi, laporan industri, serta masukan dari para pemangku kepentingan. Alat analisis yang digunakan meliputi Fishbone Diagram dan siklus Plan–Do–Study–Act (PDSA) untuk mengidentifikasi akar penyebab berbagai kendala yang ada serta mengembangkan strategi implementasi yang praktis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kandungan lokal memberikan sejumlah keuntungan strategis bagi PT ZTT Indonesia. Tingkat kandungan lokal yang lebih tinggi dapat meningkatkan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi pengadaan pemerintah, memperkuat daya saing dalam proyek infrastruktur, meningkatkan ketahanan rantai pasok, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pengembangan industri nasional. Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa hambatan utama dalam implementasi TKDN. Hambatan tersebut meliputi keterbatasan ketersediaan dan ketidakkonsistenan kualitas bahan baku domestik, biaya bahan baku lokal yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bahan impor, keterbatasan kemampuan teknologi pada pemasok lokal, serta kompleksitas regulasi yang mempengaruhi kebijakan impor dan proses sertifikasi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, penelitian ini mengusulkan sejumlah inisiatif strategis untuk meningkatkan kinerja TKDN. Strategi tersebut meliputi penguatan kemitraan dengan pemasok bahan baku domestik, pelaksanaan program pengembangan pemasok dan transfer teknologi, optimalisasi proses produksi internal untuk meningkatkan nilai tambah domestik, serta peningkatan investasi dalam penelitian dan pengembangan guna mendukung inovasi material dan proses lokalisasi. Selain itu, kolaborasi yang lebih kuat antara pelaku industri dan institusi pemerintah juga diperlukan untuk memperkuat ekosistem industri hulu serta memastikan ketersediaan bahan baku domestik yang kompetitif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kinerja kandungan lokal dalam industri kabel serat optik memerlukan pendekatan yang seimbang dan terintegrasi, yang menggabungkan kepatuhan terhadap regulasi, pengembangan rantai pasok, serta peningkatan kapabilitas industri. Bagi PT ZTT Indonesia, implementasi strategi tersebut dapat meningkatkan daya saing perusahaan dalam proyek infrastruktur nasional sekaligus mendukung tujuan yang lebih luas untuk memperkuat kapasitas manufaktur domestik dan mendorong pembangunan industri yang berkelanjutan di Indonesia. Temuan penelitian ini juga memberikan wawasan kebijakan bagi regulator dalam merancang kerangka kebijakan TKDN yang lebih adaptif dan kolaboratif, sehingga tujuan kebijakan dapat selaras dengan realitas rantai pasok industri.
Perpustakaan Digital ITB