Studi ini menginvestigasi kebuntuan komersial di PT Pupuk Indonesia (Persero),
di mana 128.590-ton persediaan pupuk ZA non-subsidi (ZA Petro dan ZA Plus
Petro) mandek di Jawa Barat. Krisis ini didorong oleh "efek ganda": resistensi
harga eksternal akibat selisih Rp 80.000–90.000 terhadap kompetitor generik yang
memicu loss aversion ritel, serta kebijakan margin antar-lini internal yang cacat
sehingga mendorong distributor memotong jalur logistik (bypassing). Penelitian
ini bertujuan untuk mengevaluasi realitas pasar, mendiagnosis cacat rantai pasok
internal, dan merumuskan strategi pertahanan non-harga.
Melalui studi kasus kualitatif, data dikumpulkan dari delapan informan strategis di
seluruh rantai pasok. Menggunakan Analisis Konten Deduktif dan matriks
SWOT/TOWS, temuan menunjukkan bahwa meskipun produk memiliki keunggulan
agronomi (>5.000 ppm Zinc), distribusi lumpuh akibat tidak tersampaikannya nilai
produk dan konflik saluran. Sebagai solusi, "Retail ZA Go-To-Market (GTM)
Playbook" dirumuskan. Strategi ini memfokuskan target pada influencer
hortikultura bernilai tinggi dengan positioning sebagai "Pelipatganda
Keuntungan". Intervensi taktis 7P mencakup Komunikasi Harga Berbasis Nilai
(Unit Value-Based Pricing), "L3 Drawdown Rebate" untuk memperbaiki cacat
margin, konsinyasi bersyarat 45 hari via aplikasi Respons Andalan untuk
mengeliminasi penahanan pesanan, dan "100 Demplot Hebat" oleh Agro-Squad
sebagai bukti fisik. Playbook ini memberikan peta jalan likuidasi 120 hari untuk
menghabiskan modal mandek dan mengamankan pangsa pasar tanpa harus
mengorbankan margin melalui perang harga.
Perpustakaan Digital ITB