Laju globalisasi dan terobosan teknologi yang pesat telah mendorong transformasi digital di Indonesia, khususnya di sektor health-tech. Pergeseran ini, yang didorong oleh mandat pemerintah seperti PMK 24/2022 mengenai Rekam Medis Elektronik (RME), telah menciptakan peluang signifikan sekaligus persaingan ketat bagi penyedia Software-as-a-Service (SaaS). Assist.id, sebuah perusahaan SaaS health-tech terkemuka di Indonesia dengan basis lebih dari 6.000 klien, telah mengalami pertumbuhan awal yang pesat. Namun, kini perusahaan berada di strategic inflection point yang kritis. Tanpa adanya strategi bisnis yang formal dan terdokumentasi, Assist.id menghadapi ambiguitas operasional dalam alokasi sumber daya dan risiko bisnis yang signifikan. Hal ini mencakup tekanan customer churn yang tinggi dari pesaing 'freemium' di segmen pasar volume tinggi (Segmen 1) dan dari pesaing 'kaya fitur' di segmen pasar profit tinggi (Segmen 2).
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesenjangan strategis ini dan merumuskan strategi business-level yang komprehensif untuk menjamin keunggulan kompetitif Assist.id yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metodologi studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur yang mendalam dengan manajemen internal (CEO, CMO, CTO, Manajer CS) dan pelanggan eksternal (Klinik Pratama dan Klinik Utama). Data dianalisis menggunakan kerangka kerja strategis termasuk Analisis STP, General Environment, Industry Environment, Value Chain Analysis, dan Matriks SWOT/TOWS.
Analisis mengungkapkan bahwa masalah bisnis inti Assist.id berasal dari "lingkar umpan balik" (feedback loop) internal yang tidak efisien (W1) , yang menciptakan "kesenjangan fitur" (feature gap) kritis (W3) dan membuat 'mesin profit' (Segmen 2) perusahaan menjadi rentan terhadap pesaing. Strategi yang ada saat ini tidak memadai untuk mempertahankan kedua segmen tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pergeseran ke Strategi Integrasi Kepemimpinan Biaya/Diferensiasi. Strategi ini mencakup tiga tindakan utama : 1) Meluncurkan paket 'freemium' yang patuh regulasi (Kepemimpinan Biaya) untuk mempertahankan Segmen 1 dari perang harga. 2) Mempercepat peta jalan R&D untuk fitur-fitur canggih (Diferensiasi) untuk melindungi Segmen 2 yang bernilai tinggi. 3) Menerapkan perubahan organisasi untuk memperbaiki lingkar umpan balik internal, sehingga menyelaraskan pengembangan produk secara langsung dengan kebutuhan pasar.
Perpustakaan Digital ITB