digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Udang putih (Litopenaeus vannamei) sebagai komoditas unggulan akuakultur di Indonesia memiliki nilai produksi yang tinggi. Secara khusus di Bali, produksi udang putih mencapai angka 8.830 ton. Indonesia menargetkan peningkatan nilai ekspor udang putih sebesar 250% dari tahun 2018. Namun dalam mencapai target, timbul masalah penurunan kondisi lingkungan terutama kualitas air yang mempengaruhi daya dukung dan produktivitas. Dampak tersebut dirasakan secara nyata terutama oleh pembudidaya udang putih di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali yang mengganggu keberlanjutan usaha. Penelitian terhadap status keberlanjutan dan pengembangan strategi dilakukan dengan analisis terhadap kondisi pembudidaya. Pengambilan data menggunakan metode observasi dan wawancara untuk menghasilkan data kuantitatif serta kualitatif. Penelitian terhadap kondisi lingkungan dilakukan dengan menganalisis kondisi kerapatan dan luas hutan mangrove dengan penginderaan jauh serta perbandingan terhadap data produksi budidaya udang. Selain itu dilakukan pengecekan kualitas air di ekosistem hutan mangrove, laut, dan tambak budidaya udang putih di Kecamatan Gerokgak untuk mengetahui kelayakan ekologis serta daya tampung terhadap limbah. Analisis keberlanjutan menggunakan metode RAPFISH. Hasil analisis dikembangkan menjadi strategi dengan metode SWOT. Posisi strategi ditentukan dengan IE matrix dan dianalisis lebih lanjut dengan metode QSPM. Hasil yang diperoleh menunjukan terdapat korelasi antara kerapatan dan luas hutan mangrove terhadap produksi udang putih. Kerapatan hutan mangrove yang paling tinggi menurun dari 3 titik menjadi 1 titik dari tahun 2023-2024, serta diikuti dengan penurunan luas dari 604,8 ha menjadi 527,1 ha. Kondisi yang sebanding dengan penurunan produksi udang sebesar 14,45%. Meskipun demikian, indeks pencemaran di area hutan mangrove dan laut masih rendah. Hal tersebut karena daya akomodasi limbah tambak sebesar 196,313 kg/m3 mampu menampung limbah nitrogen (192,53 kg/m3/hari) dan fosfat (77,438 kg/m3/hari) yang paling tinggi saat masa akhir budidaya. Sehingga, secara indeks pencemaran dari lingkungan mangrove dan laut masih normal. Kondisi yang menunjukan daerah Gerokgak masih layak secara ekologis untuk budidaya udang putih. Nilai status keberlanjutan adalah 63,19% menunjukan tingkat potensial, dengan tingkat keberlanjutan paling tinggi dari dimensi teknologi (90,61%) dan paling rendah dari dimensi ekonomi (35,235%). Potensi tersebut perlu didukung dengan strategi pengembangan. Hasil analisis SWOT menunjukan posisi strategi dalam IE Matrix, yaitu hold and maintain. Strategi prioritas yang perlu diimplementasikan berdasarkan hasil QSPM adalah penggunaan biofilter sebagai teknologi pengolahan air dengan nilai TAS 35,886. Dilanjutkan strategi penggunaan formulasi pakan serta bahan aditif yang dapat meningkatkan imunitas dengan nilai TAS 35,528 dan strategi memanfaatkan komunitas budidaya yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan dengan nilai TAS 33,135. Oleh karena itu, implementasi strategi lebih berfokus terhadap peningkatan teknologi untuk pengembangan ekonomi, sehingga memperkuat kondisi ekologis dan sosial terhadap budidaya di Kecamatan Gerokgak. Implementasi strategi dilaksanakan dengan skema bertahap setiap 3 tahun sebagai proses peningkatan, pembangunan, dan penguatan keberlanjutan.