Studi ini menyusun dan menguji suatu proses pengambilan keputusan bagi Metro Line Jakarta (MLJ) dengan menilai opsi-opsi strategis melalui pendekatan mixed-methods yang dirancang secara jelas untuk mendukung business sustainability jangka panjang dalam konteks angkutan umum perkeretaapian perkotaan (urban rail public transportation). Elemen kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan para eksekutif MLJ dan pemangku kepentingan eksternal, yang kemudian direkam, ditranskrip, dikodekan ke dalam tema-tema utama (strategi, tata kelola, keuangan, operasi, isu pemangku kepentingan, risiko), ditelaah dan dikroscek antar kelompok responden, serta divalidasi menggunakan dokumen sekunder untuk melakukan triangulasi dan meminimalkan bias. Bagian kuantitatif mencakup kajian data sekunder yang tersedia serta pelaksanaan survei Analytic Hierarchy Process (AHP) kepada enam responden; seluruh jawaban kemudian diolah menggunakan AHP On-Line Software untuk memeriksa nilai rasio konsistensi.
Kondisi keuangan MLJ menunjukkan bahwa pada tahun 2024 tiga sumber pendapatan bergerak ke arah yang berbeda: subsidi mencapai 55,21% dari pendapatan operasi, non-fare sebesar 23,96% (sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, terutama karena penyesuaian ulang kontrak dan keterlambatan perizinan), dan fare sebesar 20,83%. Beban depresiasi yang besar timbul akibat besarnya aset tetap perkeretaapian yang dimiliki MLJ (depresiasi sekitar 38% dari total pendapatan tahunan MLJ). Seperti disebutkan sebelumnya, pendapatan fare mengikuti tren ridership, sedangkan pendapatan non-farebox menunjukkan pertumbuhan yang moderat.
Keterbatasan yang teridentifikasi dari wawancara meliputi akuisisi dan penguasaan lahan, perizinan, serta kredibilitas pasar untuk layanan pelatihan dan konsultasi. Proses Strategi menggunakan PESTLE dan SWOT untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang penting, menerapkan Kepner Tregoe (KT) Decision Analysis untuk menyaring ide berdasarkan persyaratan yang harus dipenuhi, kemudian menggunakan AHP untuk memberi skor dan memeringkat alternatif berdasarkan kriteria yang merepresentasikan tujuan dan kendala MLJ. Model AHP menggunakan empat kriteria utama: Financial, Operations, Reputation/Stakeholder Perceptions, dan Legal/Regulatory.
Tiga alternatif dianalisis. Alternative A (Non-farebox Enhancement) mengusulkan perluasan pendapatan dari ritel, iklan, naming rights dan proyek transit-oriented development (TOD) untuk menghasilkan pendapatan komersial yang stabil. Alternative B (Holding and Subsidiaries Re-strategy) bertujuan memperjelas peran anak perusahaan, menghilangkan tumpang tindih, dan memosisikan anak perusahaan agar menawarkan produk/jasa yang unik. Alternative C (Infrastructure Asset Restructuring) berupaya mengalihkan MLJ menuju pure operator model dengan memindahkan aset berat untuk menurunkan tekanan depresiasi dan mengelola biaya sewa/konsesi baru yang terkait.
Alternative A ditetapkan sebagai pilihan utama dengan global priority sebesar 40,74%. Sensitivity testing dengan mengubah bobot pada kriteria utama sebesar +/- 10–20 persen tidak mengubah urutan peringkat alternatif. Berdasarkan hasil tersebut, rencana yang direkomendasikan berfokus pada dua workstream: mewujudkan transit-oriented development (TOD) yang bankable dan mengembangkan MLJ Academy menjadi produk yang berulang (repeatable product). Sebagai tuas kebijakan pendukung, rumus subsidi disarankan untuk direvisi sehingga sebagian pembayaran dikaitkan dengan ridership dan kualitas layanan, sambil tetap menjaga keterjangkauan melalui batas atas dan batas bawah yang jelas. Langkah-langkah ini diharapkan meningkatkan rata-rata pendapatan per kontrak, menurunkan ketergantungan pada subsidi, dan menyediakan template yang dapat direplikasi di lokasi-lokasi berikutnya.
Penelitian ini menghasilkan dua kontribusi utama. Pertama, penelitian menunjukkan bagaimana operator urban rail tingkat kota di negara berkembang dapat mengombinasikan property-based value generation dan service-based revenue generation untuk menyeimbangkan sumber pendapatannya di tengah berbagai keterbatasan yang ada. Kedua, penelitian ini menyajikan metodologi KT + AHP yang sederhana dan dapat direplikasi, yang mengubah beragam bukti dan pendapat pakar menjadi peringkat preferensi yang valid untuk memandu operator perkeretaapian perkotaan lain dengan kendala yang serupa.
Perpustakaan Digital ITB