digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ratna Mayasari
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Named Data Networking (NDN) merupakan arsitektur jaringan masa depan yang menggeser paradigma komunikasi dari model berbasis alamat host menuju model berbasis nama konten. Dalam NDN, strategi forwarding memainkan peran krusial karena menentukan antarmuka mana yang dipilih untuk meneruskan setiap paket Interest. Strategi konvensional seperti Adaptive Smoothed RTT-based Forwarding (ASF) mengandalkan heuristik lokal yang bersifat reaktif dan tidak mampu belajar dari pola historis jaringan. Keterbatasan ini menjadi tantangan serius pada lingkungan jaringan yang dinamis dan heterogen, khususnya pada komunikasi darurat bencana di mana infrastruktur jaringan rentan rusak dan kualitas tautan berubah dengan cepat. Kontribusi utama penelitian ini adalah strategi QLAF (Q-Learning Adaptive Forwarding), sebuah strategi forwarding adaptif berbasis reinforcement learning yang diimplementasikan langsung pada NFD (Named Data Networking Forwarding Daemon) versi 22.12 tanpa memerlukan modifikasi paket NDN. QLAF mengintegrasikan algoritma Q-Learning ke dalam forwarding plane NDN, memungkinkan setiap router secara otonom mempelajari antarmuka optimal berdasarkan umpan balik multi-metrik dari jaringan, mencakup throughput, RTT, dan jitter. Penelitian i ini juga mencakup dua kontribusi pendukung: survei komprehensif penerapan machine learning pada mekanisme routing dan forwarding NDN yang mengidentifikasi kesenjangan riset yang memotivasi pengembangan QLAF, serta kerangka klasifikasi antarmuka pada FIB menggunakan algoritma Random Forest, k-Nearest Neighbor, dan Neural Network dengan data emulasi MiniNDN pada topologi Indonesia Digital Network (IDN) yang menghasilkan akurasi tertinggi 85,77% pada model Random Forest. QLAF dievaluasi menggunakan emulator MiniNDN pada topologi 25 simpul yang dibangkitkan dengan BRITE, kemudian mensimulasikan skenario komunikasi darurat bencana dengan tautan heterogen yang mencakup jalur terestrial (10–50 ms), seluler (100–200 ms), dan satelit (500–600 ms). Kompleksitas jaringan divariasikan dari 5 hingga 10 antarmuka per router. Optimasi hyperparameter dilakukan melalui grid search terhadap 432 kombinasi, menghasilkan konfigurasi optimal ? = 0,6, ? = 0,001, ? = 0,1. Nilai ? yang sangat rendah mencerminkan sifat myopic dari pengambilan keputusan forwarding NDN, di mana kondisi jaringan melampaui hop berikutnya sangat tidak pasti sehingga immediate reward lebih informatif dibanding proyeksi jangka panjang. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa QLAF mencapai Packet Delivery Ratio (PDR) sebesar 99,91%, melampaui ASF (99,49%), Access (99,81%), dan Self-Learning (73,47%). QLAF menunjukkan keunggulan terbesar pada kompleksitas jaringan sedang dengan 7-9 antarmuka per router, dimana ASF mengalami kehilangan paket 1,3-1,5% sementara QLAF mempertahankan kehilangan di bawah 0,1%. Namun demikian, QLAF memiliki trade-off latensi yang signifikan dengan rata-rata RTT 447,6 ms dibandingkan ASF (66,4 ms) dan Access (44,3 ms). Analisis dekomposisi latensi menunjukkan bahwa 99,7% dari overhead tersebut bersumber dari keputusan pemilihan jalur oleh Q-Learning yang memprioritaskan jalur andal namun lebih lambat, bukan dari biaya komputasi algoritma itu sendiri yang hanya 1,11 ms untuk lintasan 5 hop. Kebaruan penelitian ini terletak pada irisan tiga unsur, yaitu pemilihan antarmuka pada FIB, fungsi reward multi-metrik, dan eksekusi serta pengukuran langsung pada NFD dalam waktu wall-clock, dan bukan pada salah satu unsur secara terpisah. QLAF diposisikan sebagai solusi khusus untuk komunikasi darurat yang mengutamakan keandalan pengiriman dengan toleransi latensi 400-500 ms, bukan sebagai pengganti universal bagi seluruh strategi forwarding.