Kebutuhan sistem transportasi cerdas akan persepsi lingkungan dan komunikasi
antarsimpul mendorong integrasi fungsi komunikasi dan sensing pada satu
gelombang melalui paradigma Integrated Sensing and Communication (ISAC),
yang pada konfigurasi bistatik menghindari kebocoran sinyal pemancar ke
penerima yang menjadi tantangan utama konfigurasi monostatik. Tugas akhir ini
merancang dan menganalisis simulasi sistem ISAC bistatik berbasis OFDM untuk
skenario Vehicle-to-Everything (V2X) pada pita 5,9 GHz dengan dua Road Side
Unit (RSU) sebagai pemancar dan penerima, diuji pada dua konfigurasi geometri
target, tersebar dan berdekatan, serta bandwidth 5, 10, 20, dan 40 MHz. Hasil
menunjukkan komunikasi dan sensing berjalan simultan tanpa saling meniadakan,
dengan probabilitas deteksi tinggi dan BER V2X praktis nol pada simulasi dasar.
Penambahan bandwidth memperbaiki RMSE secara nyata pada konfigurasi
tersebar, namun memiliki nilai yang relatif tinggi pada konfigurasi berdekatan. Pada
bandwidth yang sama, memindahkan target dari konfigurasi tersebar ke berdekatan
mengubah RMSE sebesar 51 kali, lebih besar daripada pengaruh menaikkan
bandwidth delapan kali lipat, sehingga geometri target terbukti lebih menentukan
akurasi lokalisasi daripada bandwidth. Penyebabnya adalah zona kompresi di antara
kedua RSU. Pengujian tambahan yang membandingkan klasifikasi berbantuan V2X
dengan klasifikasi sensing murni menunjukkan selisih akurasi signifikan, konsisten
pada kedua konfigurasi dan seluruh bandwidth, membuktikan kontribusi informasi
V2X yang tidak tergantikan oleh fitur sensing semata pada kondisi kecepatan
rendah. Temuan utama tugas akhir ini adalah bahwa keterbatasan akurasi lokalisasi
bersumber pada geometri bistatik dan bandwidth, hal tersebut dapat teratasi dengan
menambah bandwidth serta menggunakan transmitter dengan kapabilitas yang lebih
tinggi. Hal tersebut menjadi dasar kuantitatif bagi pengembangan menuju
implementasi perangkat keras.
Perpustakaan Digital ITB