digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perubahan iklim mendorong pemanfaatan Natural Climate Solutions (NCS), salah satunya melalui ekosistem blue carbon seperti mangrove yang memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon. Karbon mangrove tersimpan dalam biomassa dan sedimen, dengan akumulasi karbon sedimen dipengaruhi oleh proses transportasi, deposisi, dan retensi sedimen itu sendiri. Proses tersebut berkaitan dengan karakteristik biogeomorfologi, terutama hidrodinamika dan biostabilisasi vegetasi pada pulau berbatuan dasar karbonat seperti Nusa Lembongan, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik biogeomorfologi, mengestimasi stok karbon organik tanah (soil organic carbon/SOC), dan mengetahui hubungan karakteristik biogeomorfologi dengan stok karbon organik sedimen pada ekosistem mangrove Nusa Lembongan. Penelitian dilakukan pada dua lokasi, yaitu Mangrove Point (MP) dan Gili Mangrove (GM), masing-masing terdiri atas dua stasiun. Data vegetasi diperoleh dengan metode plot kuadrat 10 x 10 m pada MP dan Point-Centered Quarter Method (PCQM) pada GM. Sampel sedimen diambil dan dianalisis teksturnya menggunakan sieve analysis. Karbon sedimen dihitung dengan metode Loss on Ignition (LOI), sementara biomassa pohon dihitung menggunakan persamaan alometrik untuk mengestimasi stok karbon vegetasi. Analisis bentang pesisir dilakukan menggunakan QGIS dengan hasil berupa peta ekosistem pesisir, batimetri, dan Digital Elevation Model (DEM). Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa bentang pesisir Nusa Lembongan berupa mosaik ekosistem yang kompleks dengan mangrove dan padang lamun yang saling terhubung, dan dikelilingi rataan terumbu karang. Peta batimetri menunjukkan stasiun mangrove berada pada zona intertidal menuju drop-off laut terbuka, sedangkan peta DEM menunjukkan bahwa lokasi MP memiliki elevasi lebih tinggi dibandingkan GM. MP1 berada pada zona fringe dan berhadapan langsung dengan laut terbuka, didominasi fraksi sedimen vi kasar sebesar 90,61%. MP2 yang berada pada interior hutan dan terlindung dari paparan langsung gelombang didominasi fraksi sedimen halus, yaitu sebesar 62,8%. Pada GM1 dan GM2, lingkungan yang lebih terlindung dan dekat dengan daratan didominasi fraksi sedimen halus masing-masing sebesar 59,9% dan 69,4%. SOC berbeda signifikan antarstasiun (p < 0,05), dengan nilai tertinggi pada MP2 sekitar 168 Mg C/ha dan terendah pada MP1 sekitar 85 Mg C/ha, sedangkan SOC di GM1 dan GM2 berada pada kisaran 112–115 Mg C/ha. Korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif antara fraksi sedimen halus dan SOC total (r = 0,58; p < 0,001). Di sisi lain, vegetasi di MP2 memiliki kerapatan dan basal area tertinggi, MP1 berkerapatan rendah dengan diameter pohon lebih besar, sedangkan GM1–GM2 memiliki kerapatan tinggi dengan diameter lebih kecil. Stok karbon pohon mangrove tertinggi terdapat di MP2 sebesar 281,88 Mg C/ha, diikuti MP1 sebesar 209,55 Mg C/ha, GM1 sebesar 21,31 Mg C/ha, dan GM2 sebesar 13,72 Mg C/ha. Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan adanya pemisahan karakteristik antarstasiun berdasarkan kondisi hidrodinamika, tekstur sedimen, dan struktur vegetasi, dengan dua komponen utama menjelaskan 86,9% variasi data (PC1 = 56,8%; PC2 = 30,1%). Secara keseluruhan, perbedaan stok karbon sedimen antarstasiun berhubungan nyata dengan karakteristik biogeomorfologi ekosistem mangrove yang terbentuk.