Larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) berpotensi dimanfaatkan sebagai agen biokonversi limbah organik karena mampu mengonsumsi bahan organik dan mengonversinya menjadi biomassa. Dalam pengembangan budidayanya, metode Total Feeding System (TFS) diterapkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dengan memberikan pakan sekaligus di awal masa pemeliharaan. Namun, efektivitas biokonversi TFS sangat ditentukan oleh dosis ketersediaan pakan (feed availability, FA) agar tidak membatasi pertumbuhan atau memicu pemborosan pakan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi FA terhadap performa pertumbuhan dan efisiensi biokonversi larva lalat tentara hitam (LLTH) serta menentukan FA optimum pada metode TFS. Penelitian dilakukan menggunakan larva 5 DOL (days old larvae) yang dipelihara selama 10 hari dalam metode TFS menggunakan pakan ikan terstandar pada suhu udara 26,03 ± 0,88? dan kelembapan relatif 75,13 ± 4,26%. Pengujian terdiri dari 11 variasi perlakuan FA yang terbagi ke dalam 3 batch pemeliharaan bertahap, yaitu Batch 1 (FA 0,24; 0,32; 0,36; 0,40; 0,48), Batch 2 (FA 0,43; 0,60; 0,65), dan Batch 3 (FA 0,45; 0,50; 0,55). Parameter lingkungan substrat (suhu, pH, kelembapan) serta pertumbuhan larva diukur secara harian. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan, survival rate (SR), growth rate (GR), specific growth rate (SGR), efficiency of conversion of digested food (ECD) proxy, food conversion ratio (FCR) proxy, dan waste reduction index (WRI). Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan post-hoc Dunn, serta korelasi Spearman. Dinamika kondisi lingkungan substrat selama masa pemeliharaan, yang meliputi suhu (24–31°C), pH (4,0–6,9), dan kelembapan (50,3–89%), secara keseluruhan tetap berada dalam rentang toleransi yang mendukung pertumbuhan serta kelangsungan hidup larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan FA tidak menghasilkan peningkatan pertumbuhan secara linier. Pola pertumbuhan panjang dan berat basah larva mengikuti pola sigmoid/logistik. Nilai GR berkisar antara 1,81–8,35 mg/larva/hari dengan nilai tertinggi pada FA0,48 sebesar 8,35 mg/larva/hari, sedangkan SGR berkisar antara 44,38–69,76%/hari dan tertinggi pada FA0,60. SR berada pada kisaran 85,28–97,28% dan tidak berbeda signifikan antarperlakuan. Efisiensi biokonversi menunjukkan respons nonlinier terhadap peningkatan FA. Nilai ECD proxy berkisar antara 8,89–44,85%, dengan nilai tertinggi pada FA0,36, sedangkan FCR proxy berkisar antara 2,29–11,61 dan nilai paling efisien diperoleh pada FA0,36. Peningkatan FA berkorelasi negatif dengan ECD proxy dan positif dengan FCR proxy, sedangkan WRI relatif stabil pada berbagai tingkat FA. Berdasarkan hasil tersebut, FA0,48 merupakan tingkat ketersediaan pakan optimum untuk mengoptimalkan pertumbuhan larva, sedangkan FA0,36 merupakan tingkat optimum untuk mengoptimalkan efisiensi konversi pakan pada sistem TFS. Adapun, penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk memvalidasi efisiensi biokonversi pada skala industri dengan desain sistem TFS yang lebih terkontrol. Selain itu, analisis kelayakan tekno-ekonomi serta pengujian profil nutrisi biomassa larva perlu dikembangkan untuk menguji komersialisasi sistem.
Perpustakaan Digital ITB