Ektoin merupakan osmolit yang banyak digunakan sebagai bahan baku kosmetik
karena kemampuannya melindungi kulit manusia dari radiasi ultraviolet, angin,
kelembapan udara, dan perubahan suhu ekstrem. Produksi ektoin secara konvensional
melalui metode bacterial milking kurang efisien karena menimbulkan korosi peralatan
akibat penggunaan garam dalam jumlah besar serta kebutuhan bakteri untuk
mempertahankan resistensi osmotik tinggi. Sebagai alternatif, produksi ektoin secara
heterolog menggunakan bakteri non-halofil transgenik seperti Escherichia coli BL21(DE3)
dapat dikembangkan karena sistem promotor T7 yang kuat memungkinkan ekspresi
gen yang lebih efisien. Namun, E. coli secara alami tidak menghasilkan ektoin. Oleh karena
itu, diperlukan vektor untuk mengintroduksi gen biosintetik ektoin, pemilihan vektor ini
menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi produksi. Pada penelitian
sebelumnya telah berhasil diisolasi operon gen biosintetik ektoin dari Virgibacillus salarius
19.PP.SC1.6 yang dikombinasikan dengan Ribosome Binding Site (RBS) terkuat. Operon
gen biosintetik tersebut kemudian disisipkan ke dalam backbone BASIC SEVA 39.10 yang
diperoleh dari Addgene dan hasil desain plasmid sirkuler disintesis oleh Novogene.
Namun, kemampuan plasmid tersebut untuk memproduksi ektoin di dalam E. coli
BL21(DE3) belum diuji. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan plasmid
tersebut untuk memproduksi ektoin pada E. coli BL21(DE3). Plasmid rekombinan yang
dirancang menggunakan operon gen ektoin beserta RBS terkuat, promotor, dan terminator
T7 yang disisipkan ke dalam backbone BASIC SEVA 39.10 disebut pECTs. Kompatibilitas
operon gen ektoin dari V. salarius 19.PP.SC1.6 untuk diekspresikan ke dalam E. coli
BL21(DE3) dilihat juga dengan dihitungnya nilai Codon Adaptation Index (CAI) dan
didapatkan angka 0,1 (rentang 0-1) sehingga preferensi kodon E. coli BL21(DE3) berbeda
dengan kodon operon gen ektoin dan dapat mengakibatkan rendahnya konsentrasi produk
ektoin. Plasmid kemudian disintesis oleh Novogene dan ditransformasi ke dalam E. coli
BL21(DE3). Setelah koloni transforman dikonfirmasi, koloni positif diaktivasi dalam
medium LB cair mengandung kloramfenikol selama 10 jam, kemudian disubkultur ke
dalam 25 mL medium fermentasi (mengandung glukosa, yeast extract, NaCl, KH2PO4,
K2HPO4, MgSO4·7H2O, dan kloramfenikol). Induksi dilakukan dengan 0,1 mmol/L IPTG
setelah 4 jam, dan fermentasi berlangsung selama 48 jam pada suhu 37°C, 150 rpm, dengan
penambahan glukosa 20 gr/L setiap 12 jam. Ektoin didapatkan melalui sentrifugasi
untuk memisahkan pelet dan supernatannya, supernatan kemudian dianalisis menggunakan
HPLC dengan panjang gelombang DAD 210 nm. Dilakukan pengulangan biologis
sebanyak tiga kali untuk produksi ektoin. Hasil HPLC mengonfirmasi keberadaan ektoin
dengan terdapatnya puncak sampel pada waktu retensi 4,315–4,323 menit yang mendekati
waktu retensi standar (4,311 menit). Konsentrasi ektoin yang diperoleh sebesar 0,03 dan
0,17 mg dalam 25 mL medium dan kemurnian yang didapatkan juga masih rendah. Salah
satu dari ketiga sampel yang diuji menghasilkan konsentrasi undefined, hal ini karena
konsentrasi ektoin pada sampel di bawah konsentrasi standar. Namun, konsentrasi ektoin
yang didapatkan pada penelitian ini lebih tinggi dari konsentrasi ektoin yang didapatkan
dari V. salarius 19.PP.SC1.6 dengan metode bacterial milking (0,017 mg/25 mL), hal ini
dikarenakan telah dilakukan optimalisasi sistem promotor-terminator dan induksi untuk
ekspresi gen pada E. coli secara terus menerus. Walau begitu, konsentrasi ektoin yang
dihasilkan pada penelitian ini masih cukup rendah jika dibandingkan dengan konsentrasi
ektoin dari E. coli rekombinan yang telah dilaporkan. Konsentrasi yang rendah dan tidak
konsisten ini diduga terkait konversi prekursor menjadi produk yang tidak maksimal karena
ekspresi enzim biosintesis ektoin yang rendah yang didorong dengan penggunan ORI
dengan low copy number dan kompetisi jalur biosintesis ektoin dengan jalur lain yang
memiliki prekursor yang sama. Nilai CAI yang rendah juga menyebabkan translasi menjadi
enzim biosintesis ektoin tidak maksimal. Konversi prekursor menjadi produk yang tidak
maksimal ini juga menyebabkan prekursor menumpuk dan terbaca pada analisis HPLC
sebagai residu. Berdasarkan hasil yang didapatkan pada penelitian ini, dapat disimpulkan
bahwa pECTs dapat menghasilkan ektoin, walau begitu konsentrasi dan kemurnian ektoin
masih perlu ditingkatkan. Penelitian lanjutan dapat berfokus pada optimasi kodon, analisis
ekspresi gen biosintetik ektoin, dan optimasi konstruk plasmid.
Perpustakaan Digital ITB