digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Felysse Briantano
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Ketersediaan dan aksesibilitas ruang terbuka hijau (RTH), khususnya taman sebagai ruang publik, merupakan aspek penting dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan dan inklusif. Namun, distribusi taman di kawasan perkotaan masih sering tidak sesuai dengan distribusi kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat spatial equity layanan taman di Kota Bandung melalui integrasi analisis ketersediaan taman (supply), distribusi penduduk (demand), dan aksesibilitas berbasis jaringan (accessibility). Penelitian menggunakan pendekatan urban analytics berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Data taman diperoleh melalui kurasi RDTR Kota Bandung dengan fokus pada taman kota, taman kecamatan, dan taman kelurahan. Analisis demand dilakukan menggunakan pendekatan dasymetric mapping berbasis bangunan pada grid heksagonal, sedangkan analisis aksesibilitas dilakukan menggunakan metode service area berbasis jaringan jalan dengan skenario waktu tempuh 5, 10, dan 15 menit. Tingkat spatial equity dianalisis menggunakan indikator green space service coverage rate (C), green space recreation opportunity index (R), dan regional evenness (Skor G). Metode location-allocation digunakan dalam menentukan lokasi prioritas pengembangan taman. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa distribusi taman di Kota Bandung masih menunjukkan ketimpangan, terutama pada kawasan permukiman padat di luar pusat kota. Sebagian besar wilayah berada pada kategori kemerataan rendah hingga sangat rendah, khususnya skenario 5 menit berjalan kaki. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendekatan konvensional berbasis jumlah penduduk administratif seperti SNI dan Permen PU belum mampu merepresentasikan kebutuhan layanan taman secara aktual. Dengan demikian, pendekatan berbasis spatial equity dan real demand lebih efektif dalam mendukung perencanaan taman yang lebih adil dan berbasis kebutuhan masyarakat.