Naskah kuno merupakan warisan budaya yang sangat berharga namun rentan
mengalami kerusakan akibat faktor usia, lingkungan, dan kondisi
penyimpanan. Proses identifikasi kerusakan secara manual membutuhkan
waktu 45-60 menit per naskah dan sangat bergantung pada keahlian
konservator. Deteksi otomatis menggunakan segmentasi semantik dapat
mempercepat proses preservasi dan memungkinkan penanganan koleksi
dalam skala besar. Segmentasi semantik merupakan teknik berbasis
kecerdasan buatan yang bekerja dengan mengklasifikasikan setiap piksel
pada gambar ke dalam kategori kelas tertentu, sehingga sistem dapat
mengenali lokasi serta bentuk kerusakan secara presisi.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem identifikasi naskah kuno
berbasis segmentasi semantik. Untuk mendapatkan model terbaik, penelitian
ini membandingkan performa tiga arsitektur, yaitu SegFormer, U-Net, dan
DeepLabV3+ dalam mendeteksi kerusakan pada naskah kuno Indonesia, serta
mengidentifikasi faktor-faktor implementasi yang memengaruhi keberhasilan
model. Penelitian menggunakan dataset mandiri dengan lima kelas, yaitu:
background, fungi, foxing, noda, dan korosi tinta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur berbasis transformer
(SegFormer) memiliki performa superior dibandingkan model berbasis CNN
untuk segmentasi semantik manuskrip dengan ketergantungan spasial (spatial
dependencies) kompleks dan jumlah dataset terbatas. Dari total 66 data uji,
sistem mampu mengidentifikasi seluruh gambar dengan kelas yang benar.
Sebanyak 33 gambar memiliki selisih piksel prediksi antara ground truth dan
hasil prediksi di rentang toleransi yang dapat diterima, sehingga sistem tetap
efektif dalam menyimpulkan kondisi naskah secara garis besar.
Perpustakaan Digital ITB