digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

IZMI NUR RAHMI
PUBLIC Open In Flipbook Latifa Noor

Peningkatan prevelensi diabetes melitus mendorong pengembangan sensor glukosa non-enzimatik yang harapannya memiliki stabilitas lebih baik dibandingkan dengan sensor glukosa enzimatik. Salah satu pendekatan yang saat ini sedang berkembang yaitu pemanfaatan senyawa anorganik berbasis logam transisi sebagai material elektrokatalitik yang memiliki potensi terlibat pada reaksi redoks pada permukaan elektroda. Dalam penelitian ini, kompleks Cu(II)-galat berhasil disintesis, yang kemudian digunakan sebagai material pemodifikasi elektroda pasta karbon (EPK) untuk mempelajari respons elektrokimia terhadap reaksi oksidasi glukosa. Hasil analisis Powder X-ray Diffraction (P-XRD) menunjukkan bahwa pola difraksi kompleks Cu(II)-galat memiliki kesesuaian dengan pola referensi yang telah dilaporkan sebelumnya. Analisis komposisi menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) dan CHNS elemental analyzer menunjukkan kadar Cu, C, dan H masing-masing sebesar 27,7%; 26,9%; dan 1,8%, yang menghasilkan rumus kimia kompleks Cu(II)-galat Adalah Cu2C8H6O8. Ikatan koordinasi antara ion Cu(II) dan ligan asam galat ditunjukkan dengan adanya pita vibrasi Cu?O (637,658 cm?¹) pada spektrum FTIR, Kompleks Cu(II)-galat merupakan kompleks yang bersifat paramagnetik dengan nilai momen magnet efektif (?eff) sebesar 2,64 BM. Studi elektrokimia yang telah dilakukan yaitu pengukuran cyclic voltammetry (CV), amperometri, serta penentuan luas permukaan elektroaktif (Electrochemically Active Surface Area, ECSA) pada elektroda pasta karbon (EPK) termodifikasi kompleks Cu(II)-galat dengan jumlah 5% (b/b) dalam medium NaOH 0,5 M. Hasil pengukuran CV menunjukkan bahwa adanya Cu(II)-galat pada EPK dapat meningkatkan puncak arus oksidasi glukosa. Hasil tersebut mengindikasikan adanya aktivitas elektrokatalitik Cu(II)- galat. Reaksi oksidasi glukosa tersebut cenderung dikontrol melalui mekanisme difusi, yang dianalisis dari data pengukuran CV pada variasi laju pindai (10–80 mV/s). Penambahan Cu(II)-galat pada EPK menyebabkan terjadinya penurunan nilai ESCA, dari 1,095 cm2 menjadi 0,065 cm2. Walaupun adanya penurunan nilai ESCA, pengukuran kronoamperometri menggunakan EPK/Cu(II)-galat pada potensial tetap +0,3 V menunjukkan peningkatan arus oksidasi yang jelas seiring penambahan glukosa secara bertahap dengan rentang konsentrasi 0,487–3,673 mM. Pengukuran kronoamperometri tersebut menghasilkan respons linier terhadap konsentrasi glukosa dengan batas deteksi (LOD) sebesar 0,156 mM dan batas kuantifikasi (LOQ) sebesar 0,472 mM. Berdasarkan kajian studi elektrokimia tersebut, kompleks Cu(II)-galat memiliki potensi sebagai material elektrokatalitik dalam proses oksidasi glukosa pada medium basa dan dapat dikembangkan sebagai material pemodifikasi elektroda pada sensor glukosa non-enzimatik.