Emisi karbon monoksida (CO) dari gas buang kendaraan dan sistem pembakaran
adalah gas berbahaya karena gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, memiliki
afinitas tinggi terhadap hemoglobin, dan pada konsentrasi tertentu dapat
menyebabkan gangguan pernapasan hingga kematian, sehingga deteksi dini pada
konsentrasi dan temperatur rendah menjadi krusial. Kinerja sensor gas CO berbasis
metal-oxide semiconductor (MOS) konvensional, seperti SnO2 dan ZnO murni,
umumnya beroperasi pada temperatur tinggi (³ 350 °C) untuk mencapai sensitivitas
yang memadai, sehingga berdampak pada konsumsi energi yang besar dan
keterbatasan kondisi aplikasinya dalam pemantauan kualitas udara maupun
keselamatan kerja. Di sisi lain, material karbon dua dimensi seperti reduced
graphene oxide (rGO) menawarkan luas permukaan tinggi, mobilitas pembawa
muatan yang baik, serta kemudahan rekayasa struktur, sehingga berpotensi
meningkatkan respons terhadap gas target (CO) pada temperatur operasi yang
rendah. Namun, keterbatasan cadangan grafit alam global, mendorong pencarian
material alternatif prekursor rGO. Batubara berpotensi sebagai material prekursor
rGO karena dapat memanfaatkan sumberdaya lokal yang besar dan biaya produksi
yang relatif lebih murah. Penelitian ini secara sistematik mempelajari sintesis,
karakterisasi, dan evaluasi kinerja rGO berbasis batubara dan SnO2 dalam arsitektur
nanokomposit, serta memanfaatkan efek katalitik logam platinum (Pt) sebagai
material aktif sensor dalam mendeteksi CO pada temperatur rendah.
Penelitian diawali dengan reduksi ukuran batubara bituminus (C) hingga -200
mesh. Sampel C dilakukan pre-treatment via demineralisasi melalui pelindian
bertahap dengan 1 M HF dan 0,5 M HNO3, dilanjutkan karbonisasi pada temperatur
700 °C selama 2 jam, dan diikuti aktivasi CO2 pada temperatur 800 °C selama 1
jam dengan laju pemanasan keduanya 5 °C/menit dan laju aliran gas 1 L/menit.
Sintesis graphene oxide (GO) dilakukan menggunakan metode Hummers yang
dimodifikasi. Lalu GO direduksi secara kimia menggunakan asam askorbat dengan
pemanasan cepat menggunakan microwave selama 3 menit pada 1.000 Watt dalam
kondisi pH larutan 8. GO lalu dilakukan thermal annealing menggunakan gas argon
dan CO2 pada 800 °C selama 1 jam dengan laju aliran gas 70 mL/menit untuk
memperoleh rGO berbasis batubara. Selanjutnya, nanokomposit rGO-SnO2 (CRS)
iii
disintesis menggunakan metode poliol dengan pengaturan komposisi SnO2 yang
kemudian dimodifikasi lebih lanjut melalui dekorasi Pt guna membentuk material
aktif Pt-decorated rGO-SnO2 (CPRS). Karakterisasi material dan produk dilakukan
secara menyeluruh untuk mengungkap sifat fisika-kimianya, meliputi X-ray
diffraction (XRD) untuk identifikasi struktur dan bidang kristal, Fourier transform
infrared spectroscopy (FTIR) untuk analisis gugus fungsional, Raman spectroscopy
untuk mengevaluasi kristalinitas dan disorder, scanning electron microscopeenergy
dispersive spectroscopy (SEM-EDS) untuk analisis morfologi dan
komposisi unsur, thermogravimetric analysis (TGA) untuk mengevaluasi stabilitas
termal, serta N2 sorption isotherm dengan metode Brunauer-Emmett-Teller (BET),
Barrett-Joyner-Halenda (BJH), dan t-plot untuk analisis tekstur pori dan luas
permukaan spesifik. Material aktif yang dihasilkan kemudian difabrikasi menjadi
thick film sebagai elemen sensor kemiresistif dan diuji terhadap gas CO pada variasi
konsentrasi 1 – 30 ppm dan temperatur kerja 50 – 350 °C untuk mengevaluasi
sensitivitas, waktu respon dan recovery, serta selektivitas terhadap gas interferen
(SO2 dan CO2).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pre-treatment batubara secara signifikan
menurunkan kandungan abu dari 2,16 wt% (db) menjadi 0,29 wt% (db) serta
kandungan volatile matter (VM) dari 41,15 wt% (db) menjadi 1,18 wt% (db). rGO
hasil sintesis memiliki struktur kristal dan morfologi khas lembar graphene dengan
nilai d(002) masing-masing sebesar 0,373 nm untuk rGO-Ar (RA) dan 0,376 nm
untuk rGO-CO2 (RC), serta jumlah lapisan graphene pada daerah koherennya
masing-masing sebanyak 4 dan 3 lapisan. RC menunjukkan luas permukaan tinggi
hingga 720 m2/g dan berperan sebagai matriks konduktif yang efektif dalam
nanokomposit rGO-SnO2. Selain itu, RC memiliki proporsi volume mikropori
terhadap volume pori total sebesar 0,522 dengan diameter pori rata-rata 1,202 nm,
yang termasuk kategori mikropori (< 2 nm). Karakteristik tersebut mendukung
peningkatan adsorpsi gas pada material sensor. Nanokomposit CRS-1 menunjukkan
respons maksimum sebesar 91,29% terhadap 30 ppm CO pada suhu 200 °C dengan
waktu respons dan recovery masing-masing 0,88 dan 0,67 menit. Dekorasi Pt 0,3
at% (CPRS-0,3) lebih lanjut meningkatkan kinerja sensor hingga mencapai respons
maksimum 99,84%, dengan waktu respons dan recovery yang lebih cepat masingmasing
0,33 dan 0,29 menit serta menunjukkan sensitivitas yang baik terhadap CO
pada konsentrasi serendah 1 ppm. Peningkatan kinerja tersebut dikaitkan dengan
sinergi heterojunction rGO-SnO2, mekanisme oxygen spillover, dan sensitisasi
katalitik Pt yang mempercepat transfer muatan serta kinetika reaksi permukaan,
sehingga menghasilkan sensor CO yang sensitif, selektif, dan berperforma tinggi.
Perpustakaan Digital ITB