digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Trisia Rima Ayu Andini
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki tingkat kerentanan spasial yang tinggi terhadap fenomena presipitasi ekstrem pemicu bencana hidrometeorologi yang diinduksi oleh siklon tropis. Simulasi berbasis model atmosfer tunggal (stand-alone) secara fundamental memiliki keterbatasan fisis dalam mereproduksi dinamika batas lautan akibat pengabaian transfer fluks dinamis interaksi laut-atmosfer. Guna mengoreksi batasan tersebut, penelitian ini mengimplementasikan sistem pemodelan kopel Coupled Ocean–Atmosphere Wave–Sediment Transport (COAWST) pada kasus Siklon Tropis Seroja (1–12 April 2021) serta mengevaluasi pengaruh interaksi dua arah (two-way Coupling) terhadap akurasi prediksi curah hujan ekstrem. Simulasi numerik dirancang melalui tiga skenario bertahap, yaitu Uncoupled (WRF only), Coupling (WRF–ROMS), dan Full Coupling (WRF–ROMS–SWAN), dengan data inisialisasi dan syarat batas yang bersumber dari GFS, HYCOM, dan GEBCO. Validasi model dilakukan secara komparatif terhadap data observasi historis IBTrACS, satelit Himawari-8, dan produk presipitasi gridded MSWEP. Performa dinamis dari masing-masing skenario pemodelan tersebut selanjutnya dievaluasi secara kuantitatif menggunakan metrik Mean Track Error (MTE), Root Mean Square Error (RMSE), dan Correlation Coefficient (CC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario Full Coupling menghasilkan performa spasio-temporal paling superior. Konfigurasi kopel penuh ini berhasil mereduksi nilai MTE sebesar 16,1% (menjadi 340,59 km), RMSE MSLP sebesar 43,1% (menjadi 2,83 hPa), dan RMSE curah hujan spasial sebesar 22,7% (menjadi 9,58 mm), disertai peningkatan koefisien korelasi spasial yang signifikan dari 0,57 menjadi 0,72. Probabilitas luasan kejadian hujan ekstrem (>150 mm/hari) turut diredam secara fisis dari 2,3% menjadi 1,9%, sehingga menghasilkan kurva distribusi konveksi yang lebih realistis. Penelitian ini menegaskan pentingnya representasi interaksi laut–atmosfer dua arah dalam meningkatkan akurasi prediksi curah hujan ekstrem di wilayah tropis.