Wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki tingkat kerentanan spasial
yang tinggi terhadap fenomena presipitasi ekstrem pemicu bencana
hidrometeorologi yang diinduksi oleh siklon tropis. Simulasi berbasis model
atmosfer tunggal (stand-alone) secara fundamental memiliki keterbatasan fisis
dalam mereproduksi dinamika batas lautan akibat pengabaian transfer fluks dinamis
interaksi laut-atmosfer. Guna mengoreksi batasan tersebut, penelitian ini
mengimplementasikan sistem pemodelan kopel Coupled Ocean–Atmosphere
Wave–Sediment Transport (COAWST) pada kasus Siklon Tropis Seroja (1–12 April
2021) serta mengevaluasi pengaruh interaksi dua arah (two-way Coupling) terhadap
akurasi prediksi curah hujan ekstrem.
Simulasi numerik dirancang melalui tiga skenario bertahap, yaitu Uncoupled (WRF
only), Coupling (WRF–ROMS), dan Full Coupling (WRF–ROMS–SWAN),
dengan data inisialisasi dan syarat batas yang bersumber dari GFS, HYCOM, dan
GEBCO. Validasi model dilakukan secara komparatif terhadap data observasi
historis IBTrACS, satelit Himawari-8, dan produk presipitasi gridded MSWEP.
Performa dinamis dari masing-masing skenario pemodelan tersebut selanjutnya
dievaluasi secara kuantitatif menggunakan metrik Mean Track Error (MTE), Root
Mean Square Error (RMSE), dan Correlation Coefficient (CC).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario Full Coupling menghasilkan
performa spasio-temporal paling superior. Konfigurasi kopel penuh ini berhasil
mereduksi nilai MTE sebesar 16,1% (menjadi 340,59 km), RMSE MSLP sebesar
43,1% (menjadi 2,83 hPa), dan RMSE curah hujan spasial sebesar 22,7% (menjadi
9,58 mm), disertai peningkatan koefisien korelasi spasial yang signifikan dari 0,57
menjadi 0,72. Probabilitas luasan kejadian hujan ekstrem (>150 mm/hari) turut
diredam secara fisis dari 2,3% menjadi 1,9%, sehingga menghasilkan kurva
distribusi konveksi yang lebih realistis. Penelitian ini menegaskan pentingnya
representasi interaksi laut–atmosfer dua arah dalam meningkatkan akurasi prediksi
curah hujan ekstrem di wilayah tropis.
Perpustakaan Digital ITB