Gempa bumi Ambon 2019 dengan magnitudo 6,5 Mw merupakan peristiwa seismik yang merusak di Maluku, wilayah yang kompleks secara tektonik akibat interaksi lempeng Eurasia, Australia, dan Pasifik. Untuk mengkarakterisasi anisotropi seismik dalam konteks mitigasi bencana, parameter pemisahan gelombang geser (SWS) dikuantifikasi menggunakan data waveform dari 15 stasiun seismograf yang dipasang oleh ITB dan BMKG selama 19 Oktober hingga 14 Desember 2019, dengan menerapkan metode Cluster Analysis-Rotation Corelation melalui perangkat lunak Pytheas. Dari total 1035 pengukuran, 429 pengamatan berkualitas tinggi (Grade A: 271, Grade B: 158) diperoleh dari 7 stasiun aktif, menghasilkan dua parameter utama: arah polarisasi cepat (?) dan waktu tunda (?t). Arah polarisasi cepat rata-rata di setiap stasiun bervariasi antara 43,1° dan 85,5°, menunjukkan orientasi dominan NE–SW hingga E–W. Waktu tunda rata-rata berkisar antara 0,07 hingga 0,117 detik, sedangkan persentase anisotropi yang diperkirakan bervariasi dari 0,694% hingga 1,58%. Pola orientasi anisotropik di area penelitian menunjukkan dua segmen: bagian utara dan selatan. Di bagian utara area penelitian, orientasi polarisasi cepat NE-SW konsisten dengan keberadaan sesar geser mendatar yang berarah NE-SW yang sudah ada sebelumnya. Di bagian utara Pulau Ambon, tren struktur dominan adalah timur-barat (E-W). Deformasi ekstensional diinterpretasikan telah menghasilkan struktur geser Riedel, yang menyebabkan perkembangan orientasi sesar yang berbeda dari arah sesar utama. Sebaliknya, segmen selatan umumnya dicirikan oleh tren timur laut-barat daya (NE-SW),
ii
dengan beberapa struktur menunjukkan orientasi utara-selatan (N-S). Temuan ini meningkatkan pemahaman kita tentang pola retakan bawah permukaan dan kondisi tegangan di dalam area sumber gempa, memberikan wawasan penting untuk penilaian bahaya seismik di wilayah Maluku.
Perpustakaan Digital ITB