Periode Early Holocene (11,7–8 ka) merupakan fase pascaglasial yang ditandai
oleh peningkatan insolasi dan kenaikan muka laut global yang memengaruhi
dinamika Arus Lintas Indonesia (Arlindo) di Selat Makassar. Penelitian ini
bertujuan merekonstruksi kondisi paleoseanografi dan menganalisis hubungan
kelimpahan foraminifera planktonik sebagai proksi perubahan kondisi oseanografi
masa lampau dengan intensitas Arlindo pada inti sedimen TR1926B di Perairan
Sangatta, Selat Makassar. Rekonstruksi dilakukan menggunakan proksi
foraminifera planktonik untuk memperoleh Sea Surface Temperature (SST),
Thermocline Water Temperature (TWT), dan Depth of Thermocline (DOT), serta
dikombinasikan dengan proksi sortable silt dan log(Zr/Rb). Hasil penelitian
menunjukkan terjadi penghangatan SST dengan rata-rata sebesar 28,4°C dan
fluktuasi TWT sebesar 23,5°C. Analisis kelimpahan foraminifera planktonik secara
kualitatif menunjukkan bahwa selama periode Early Holocene spesies thermocline
dwellers lebih dominan (52,88%) dibandingkan mixed layer dwellers (47,12%).
Kondisi tersebut mengindikasikan Depth of Thermocline (DOT) relatif dangkal
yang mencerminkan intensitas Arlindo relatif lemah. Dibandingkan dengan periode
lain, DOT pada Early Holocene relatif lebih dangkal dibandingkan periode Younger
Dryas dan Mid Holocene sehingga mengindikasikan intensitas Arlindo yang lebih
lemah, sedangkan dibandingkan periode Late Holocene, DOT relatif lebih dalam
yang mengindikasikan intensitas Arlindo relatif lebih kuat. Namun demikian, hasil
proksi sortable silt dan log(Zr/Rb) menunjukkan pola yang tidak sepenuhnya sama
dengan proksi foraminifera planktonik, karena kedua proksi tersebut lebih merekam
dinamika energi arus dasar dan transpor sedimen lokal dibandingkan perubahan
lapisan termoklin.
Perpustakaan Digital ITB