Pelestarian warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) semakin
mendapat perhatian dalam pembangunan kota berkelanjutan karena berperan
sebagai pembentuk identitas, memori kolektif, dan karakter suatu kota. Meskipun
demikian, sistem penilaian Kota Pusaka di Indonesia masih berorientasi pada
warisan budaya bendawiwi, sementara indikator penilaian warisan budaya takbenda
belum dirumuskan secara operasional. Kondisi ini menyebabkan belum adanya
instrumen yang objektif untuk menilai kelayakan suatu kota sebagai Kota Pusaka
berdasarkan aspek budaya takbendawi. Penelitian ini bertujuan merumuskan
kriteria dan indikator warisan budaya takbenda sebagai dasar penilaian Kota Pusaka
Indonesia, serta menguji penerapannya pada Kota Ambon sebagai studi kasus.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan analisis
kuantitatif. Perumusan kriteria dan indikator dilakukan melalui sintesis teori,
regulasi internasional dan nasional, serta penelitian terdahulu mengenai warisan
budaya takbenda. Analisis mengacu pada Konvensi UNESCO 2003 tentang
Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage, Undang-Undang Nomor 5 Tahun
2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2021
tentang Penyelenggaraan Cagar Budaya, serta berbagai kajian mengenai pelestarian
budaya hidup (living heritage). Selanjutnya, objek budaya non-ragawi Kota Ambon
diidentifikasi dan dinilai berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa warisan budaya takbenda dapat dinilai
melalui enam kriteria utama dan dijabarkan ke dalam empat belas indikator
operasional yang dapat digunakan untuk menilai keberadaan dan kekuatan suatu
objek budaya non-ragawi. Berdasarkan hasil inventarisasi, Kota Ambon memiliki
18 objek budaya non-ragawi yang tersebar dalam lima kategori Objek Pemajuan
Kebudayaan, hasil penilaian menunjukkan bahwa sebagian besar objek budaya
memiliki tingkat keberlanjutan dan keterikatan komunitas yang kuat sehingga Kota
Ambon memenuhi ambang batas kelayakan sebagai Kota Pusaka berbasis budaya
takbenda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa warisan budaya takbenda dapat
digunakan sebagai dasar penilaian Kota Pusaka secara objektif melalui pendekatan
berbasis kriteria dan indikator yang terukur.
Perpustakaan Digital ITB