digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Instagram didominasi oleh pengguna perempuan, pada saat yang sama perkembangannya sebagai platform berbasis visual telah mengubah fungsi media sosial dari ruang interaksi sosial menjadi ruang praktik visual. Kondisi ini menempatkan perempuan sebagai kelompok yang secara intensif terpapar berbagai konten visual di media digital. Salah satu jenis konten yang marak ditemukan adalah Outfit of the Day (OOTD), yaitu konten berbagi penampilan dan busana melalui visual. Meskipun penelitian mengenai OOTD telah banyak membahas aspek fesyen, identitas, maupun gaya hidup, kajian yang memosisikan relasi antara pengguna dan platform dalam konteks budaya visual masih relatif terbatas. Penelitian kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif ini hadir untuk melengkapi celah tersebut melalui pendekatan komplementer yang menggabungkan analisis konten visual dengan analisis interpretasi pengguna dalam kerangka media feminis. Pengumpulan data dilakukan secara purposif pada dua sumber utama; konten OOTD dari pengguna perempuan nonselebriti dikumpulkan melalui teknik data scraping, sementara data interpretasi pengguna diperoleh melalui kuesioner daring terhadap perempuan pengguna aktif Instagram yang memproduksi dan berinteraksi dengan praktik OOTD. Analisis data dilakukan melalui dua fokus paralel: analisis intersemiosis visual (Kress & van Leeuwen) untuk membedah moda representasional, interaktif, dan komposisional pada konten OOTD, serta analisis tematik berbantuan ATLAS.ti untuk mengurai dinamika pemaknaan pengguna. Temuan penelitian menunjukkan bahwa representasi visual perempuan dikonstruksi melalui proses negosiasi di antara pengguna dan platform Instagram. Analisis intersemiosis mengidentifikasi tiga modalitas utama pada konten OOTD—yakni otentisitas, kompetensi, dan estetis—yang dikemas sebagai komoditas visual. Sementara analisis interpretasi mengungkap bahwa pengguna memanfaatkan praktik ini sebagai ruang agensi dan ekspresi diri namun terartikulasi mengikuti logika platform. Sintesis dari kedua analisis tersebut menghasilkan pemaknaan berwujud 'sirkuit negosiasi visual'; sebuah siklus praktik representasional yang berkelanjutan di mana pengguna perempuan secara negosiatif memproduksi citra demi memenuhi standar visual pada platform, yang pada gilirannya mendisiplinkan cara perempuan memandang diri sendiri (self-gaze). Kontribusi dan kebaharuan penelitian ini terletak pada sintesis analisis multimodal dan interpretasi pengguna dalam satu kerangka budaya, yang membuktikan bahwa representasi perempuan di media visual digital tidak hanya dibentuk melalui konten yang diproduksi, tetapi juga melalui proses interpretasi, reproduksi, dan negosiasi makna yang berlangsung secara berkelanjutan